16 April 2011

ROB PILATUS

Dua belas tahun sesudahnya kematiannya terasa sia-sia.  Kini bahkan lypsinc menjadi komoditas riuh-rendah. Polisi periang meniru Shah Rukh Khan, mewujud selebriti dadakan dalam sorak-sorak. Takkan ada depresan menyesap alkohol dan narkoba. Kemudian memilih mati dalam sunyi di ceruk sebuah hotel. 


Bahkan jika badut berjingkrak-jingkrak di panggung, bersuara Lady Gaga, ia akan memiliki kerumunan penggemar. Berikut orang-orang yang menganggapnya biasa.  
 
 
Di dunia yang serba artifisial ini, apa yang tidak biasa ? Seseorang berpenghasilan lima juta per bulan memiliki sepuluh kartu kredit.  Perempuan beranak-pinak lima tahun sebelum mendaki altar pernikahan.  Seorang diktator dikeroyok demi prospek bisnis minyak negara lain.


Bahwa ia menciut dan sakit pertanda ia moralis. Minimal percaya sepotong kebenaran.  Ah, padahal ia sekadar berjingkrak-jingkrak dan menggerakkan bibir.  Pada masa itu, aku sungguh menggemarinya dan Fab. Sebuah bus ringsek dalam hujan, anak-anak SMA, Blame it On The Rain menuju dataran berkabut.  
 
 
Segelintir benar-benar penyanyi sekarang.  Teknologi audio mengubah sember menjadi merayu.  Rob, sesungguhnya perilakumu mendahului zaman. Tapi begitu nasib kebanyakan peretas.  Ketika segerombolan menghujatmu, seharusnya kau bergeming dan terus berjingkrak.  Industri membentukmu, tidak membelamu, mencampakkanmu.


Kau bisa membaca komentar di YouTube sekarang, dari duniamu yang berpendar itu, betapa banyak berkata : aku tidak perduli suara siapa, tapi kami merindukan Rob dan Fab.  Pemilik suara tampil namun orang-orang merindukan Rob dan Fab yang berjingkrak, rambut tergerai gimbal, badan kekar, bantalan di bahu.


Blame it On The RainRest in Peace, Rob.


0 komentar: