22 August 2010

MEMBUKA PINTU

Membuka pintu kau turunkan kabut. Digulung lampu-lampu merkuri. Kabut keemasan gamang di awang-awang. Sejenak mencarimu :  keindahanmu sublim.  Bukan dalam dogma.  Beberapa tahun lampau seorang kanak-kanak mencoba sesap jejakmu dari semilir angin dan teratai gemeretak di kolam.  Dan berkas cahaya dini ketika ia terbangun. Guru dan kitab menjelaskan isyarat seribu bulan.


Ia menghendaki candra yang kau beri dengan begitu pemilih.  Bertahun-tahun kemudian ia tak lagi memburu candra.  Waktu adalah labirin dan sarang lelaba.  Hidup menggelinding. Mengeras.  Kau lalu sekadar gagasan purba dan sahwat sekolahan.  Lampu-lampu kota lebih menggelinjangkan.  Secangkir kopi dan jazz lebih penting dipikirkan. Kau telah cukup dijelaskan para ilmuwan.


Kabut keemasan berputar-putar dalam kelam.  Hasrat asali ini rupanya tersimpan senyap. Di masjid kau dimeriahkan dan disebut.  Namun mengapa kita bertemu ketika aku membuka pintu, memandang belantara itu, cahaya itu, kunang-kunang itu, gemerisik itu, kabut itu?

0 komentar: