Di lantai bau pesing kucing Tuljinah mencangkung ditemani suami, saudara dan ipar. Anaknya masih bau iler, rambut acak-acakan, gelendotan minta duit jajan. Gerobak mie ayam nangkring depan gerbang. Hari ini Tuljinah diberhentikan tak hormat atas tuduhan serangkaian pencurian benda-benda anak kost. Luinar memintas bawa jemuran, berusaha menguping dan sekadar memperoleh potongan-potongan keluhan.
Menjemur di pelataran cucian Luniar membatin : " Ya kembalilah ke desa, ke tanah keras retak yang mengidap musim gering tahunan, ketimbang berkeliaran mengenakan baju yang kau tilep dari tali jemuran".
Tuljinah menjaga kost seberang. Suaminya tukang jahit, lelaki jujur bersahaja. Tuljinah kebanyakan mimpi. Sekian usianya sesak angin kering yang dikirim gunung-gunung batu. Orang-orang sana makan belalang, dimasak serupa udang galah. Orang-orang sana kebanyakan hijrah, menyisakan generasi tua yang kerap menatap dedahan pohon untuk pulung gantung.
Musim gering abadi tak sanggup memadamkan banyak mimpi Tuljinah. Kota kemudian menyesakkan bak parade merangsang. Etalase dan televisi mengajarkan cara berlagak. Sepetak kamar untuk Tuljinah, Si Penjahit dan Si Iler, semacam kapal pembajak berteropong.
Sungguh para mahasiswi itu, anak kost itu, lagaknya mengagumkan. Kamar-kamar mereka berpendingin ruangan. Mobil mereka nongkrong di pelataran parkir seolah kepengen menggencet motor tua Si Penjahit. Mereka tak lepas dari ponsel yang namanya serupa buah -- Aha, Tuljinah tahu namanya-- Blackberry. Di sebalik pintu ketika Tuljinah menyapu koridor asal-asalan, anak-anak sejahtera itu kadang-kadang nampak malas-malasan nikmat sembari menatap layar laptop. Sepantaran Tuljinah, namun mengapa nasib begitu pemilih.
Dan, sungguh celaka, baju-baju yang dijemur sungguh indah dan girly. Kawan-kawan desa Tuljinah bisa megap megap jika ia mengenakan semacam baju-baju itu. Maka ketika suatu hari terdengar pekikan kehilangan dari penghuni kost, Tuljinah merangsek dalam sandiwara empati. Tuljinah malah melapor ke kantor polisi. Polisi -semacam inspektur Takur dalam film Bollywood- mendata benda-benda yang lenyap tanpa gairah menelusur serupa Sherlock Holmes.
Puja kawan-kawan di desa bikin Tuljinah bersemangat memperluas wilayah pembajakan. Tersebutlah kost lainnya, dijaga saudara kandungnya, seberang kost yang dijaganya, tempat Luinar itu. Kebingungan kehilangan jemuran, dompet, tupperware dan lainnya, disimpulkan lupa belaka.
Tumbuh di tanah retak bikin sel-sel kelabu otak Tuljinah tak kembang semestinya. Penuh percaya diri ia berkeliaran mengenakan baju dan benda-benda orang lain, bahkan depan mata sang pemilik yang mengenal detil visual barang mereka.
Dan tibalah hari ketika para korban bersatu dan menggelindingkan Tuljinah ke Inspektur Takur yang tak punya hasrat menyelidik itu. Massa mengamuk segera membangunkan petugas negara itu. Mendadak ia jadi aparat agresif yang menyerbu Tuljinah dengan interogasi.
Tuljinah, perempuan dua puluh dua, kini bermuka semaput, menekuri koridor bau ompol kucing, di kost yang dijaga saudaranya, lelaki pemalas yang mengisi hari merokok, menonton bola dan menilep duit istri itu, gulana membayangkan musim gering abadi, tiwul, belalang yang di-udang-kan dan orang-orang yang gantung diri di dahan pohon.
1 komentar:
Ironis...
Post a Comment