05 May 2010

DILARANG MENULIS YANG BUKAN-BUKAN !

Kereta api harian. Mendesis-desis.  Wangi White Musk menguap rembang petang,  usai melesak pagi-pagi sepanjang jalan dan di ruang-ruang kantor.  Jalan raya gaduh.  Manusia penat kembali ke sarang.  


Mata belo perempuan melekat di layar netbook.  Hari ini beruntung mendapat kursi.  Ia buka diary online.  Hendak buang sampah dia : kejengkelan, kekesalan, rasa tak menerima keadilan, rasa sapi diperah.  


Dua sansak selalu : pekerjaan dan lelaki itu.


Lelaki itu lebih banyak tak hendak bekerja sama.  Dulu ia berpikir ada yang salah dalam pola pengasuhan.  Namun hipotesis apapun,  lelaki itu tetaplah jumawa chauvinistis.  Eloklah lelaki itu meniru perilaku  ideal.   Dia dan lelaki itu sama-sama penat.   Kembali ke sarang lelaki itu menuntut  Pulau Kapuk.    Anak usia setahun itu rewel, menuntut jatah, dan dia - Sang Perempuan-  diwajibkan mengatasinya seorang diri.


Dia perempuan yang ibu.   Lelaki tidur itu yang  bapak. 


Kereta petang, sebentar lagi kelam.  Perempuan penat yang geram.  Kekesalannya jadi kelabang kata-kata.  Diary Online.  Ia menuntut disamakan di situ.  Ia mengeritik lelaki yang mau enak saja itu.  Ia ingin lelaki itu rela bergantian dengannya bikin susu untuk anak, menceboki anak,  membikin kopi untuknya.


Menghibur diri sendiri dalam ekstase kata-kata,  membangun dunia harapan,  katarsis sengit dalam kemasan hipotesis dan kegenitan akademis.   Ia memasang banyak gambar : senyumnya kembang bahagia.  Salah satu gambar mengoyak harga diri lelaki itu.


" Hilangkan foto itu, " lelaki itu memberi perintah.


" Mengapa ? Itu cuma aku dan kolegaku."


Jadi,  ia menghapus gambarnya dan lelaki menawan itu,  mirip Ben Affleck.


Sekarang saban pagi lelaki itu menjadi semacam anggota Badan Sensor.  Kelabang kata-kata yang mendiskreditkan dirinya sebagai suami yang enggan memikul beban bersama istri, dihapusnya.   Kata-kata manis tentang dirinya ditetapkan.   Sesungguhnya ia lelaki manis.  Perempuan itu lupa ia banyak menghamburkan kado.


Ia cuma tidak sempurna, serupa homo sapiens lainnya.


Perempuan mata belo itu sekarang berhentu menulis.  Seperti pewarta masa lalu ia dilarang menulis yang bukan-bukan !


Subversif.

0 komentar: