07 February 2010

NYONYA ABULROTTA

Cinderella Complex kah yang menderaku ?  Persetan.  Pria jangkung dengan tungkai panjang dan bekerja di sebuah BUMN itu kini terbaring di sebelahku.  Pencarian panjang dalam jampi ibuku berujung ledakan bunga-bunga.   Aku pun meledakkan orang lain : ibarat kelana dahaga, orang lain oase bagi kehausanku berbagi bunga.  Malam-malam pertama sebagai istri, kusebarkan pesan pendek.  Narasi gempita berupa kesimpulan : menjadi istri adalah pencapaian terbaik perempuan.  Pesan-pesan pendek dalam malam dan dini hari.   Bahwa pesan-pesan itu tak dijawab,  tidaklah penting.


Kusebut, aku tak mampu berpisah dengan lelaki ini, penemuanku.  Kusebut,  aku harap hanya maut yang mengoyak.   Kurasakan semacam sahaya sukarela.   Seperti perempuan lainnya, nama diri yang dimaktub dalam akte lahir,  dengan penuh kesadaran dan kebanggaan,  kubiarkan lelaki itu dan masyarakat menisbatkan nama baru :  Nyonya Abulrotta.   


Maka panggil aku Nyonya Abulrotta mulai sekarang.  Atau jika identitas diriku hendak sedikit dituliskan,  maka tulislah sebagai Nyonya Andini Abulrotta.  Setidaknya,  perlu berterima-kasih pada orangtuaku yang berpikir keras memberi nama terbaik ketika aku lahir.  Namun sejujurnya, segenap jiwaku telah berabulrotta, tak menyisakan rasa untuk nama sendiri kecuali demi bakti  anak kepada orangtua.


Lelaki itu bernama Abulrotta.  Menjelang menemukannya,  aku bermimpi tiga ekor ular bertarung hendak menjebol pintu kamarku.  Ular pemenang  bergerak lamban, menujuku, melenggak tak butuh seruling.   Dalam nujum lelaki di koridor universitas,  lelaki itu akan menjadi pejabat dan tentu saja aku akan jadi ibu pejabat.  Hidupku bakal gemilang sukacita.  Barangkali aku perlu belajar bertingkah ibu pejabat sejak kini.  Apakah perlu merapal jampi warisan ibuku ?


Begini.  Tak hendak aku berkata ibu pejabat semacam kasta puncak.  Namun ingatlah selalu :  semua manusia sama, namun ada kelompok yang lebih sama.  Ibu pejabat tergolong kelompok terakhir.   Maksudku, gerombolan ibu pejabat itu meski serupa dan sederajat dengan perempuan lainnya, kelompok ini serupa dalam kelompoknya sendiri.    Paham ?


Lihat cara mereka berbicara, berdandan, menjamu tamu atau memberikan petunjuk dan pengarahan.   Keistimewaan spesies ini adalah kekuasaan suami mereka berarti pula kekuasaan mereka.  Mereka bahkan membentuk organisasi yang sungguh sibuk dengan hirarki mengesankan.  Tujuan organisasi itu selalu mulia.   


Hmmm,  namun dalam tata rambut, mungkin aku, Nyonya Abulrotta, tak hendak menyasak rambut terlalu menggelembung.   Suatu hari dalam hidup aku berpikir,  salah satu penyebab  lubang ozon adalah penggunaan semprotan aerosol pembentuk gelembung rambut.    Bapak Abulrotta memiliki istri sadar jargon pemanasan global, you know....


Sidang pembaca budiman,  maka izinkan aku, Nyonya Abulrotta, hidup berbahagia bersama Bapak Abulrotta,  pejabat masa depan itu.   Jika kalian hendak mendengarkan sukacitaku yang tak henti-henti, silakan mampir ke rumah kami atau berikan nomor ponsel kalian padaku,  Nyonya Abulrotta.   Kisahku tak habis,  selalu butuh pendengar setia.  Jadilah pendengarku, kuberikan kau sepuluh cangkir kopi dan lima piring pastry  !










0 komentar: