19 February 2010

BILIK

Di rumah besar itu, ada kamar utama dengan springbed empuk.  Ada kamar mandi dengan shower model kuno.  Pemilik rumah datang sekali-sekali.  Ketika itulah kamar utama itu dibersihkan gegas.  Sprei baru akan dibentang.  Debu-debu disapu hingga menyebar bergumul di udara dan hinggap di tempat yang lain.  Lantai akan berbau karbol.  Seikat bunga akan diletakkan di atas meja.  Seruap pun aroma jejak kehidupan sebelumnya ditelan cairan kimia bikinan pabrik, karbol itu.

Malam-malam sebelumnya, kegaduhan dari kamar tersebut menjengkelkan perempuan bernama Kueni.  Ia menyewa sepetak kamar di teras  -semacam pavilyun-  di sebelahnya.  Suami-istri yang membersihkan kamar induk itu, mengirimkan hiruk-pikuk : lenguhan dan suara sapi digorok.  Kegaduhan penumpang gelap.


Ada sepetak kamar lagi yang merupakan rumah bagi pasutri tersebut.  Didiami bersama dua anak usia sekolah dasar.  Berdesakan, saling merebut oksigen.   Dekat teras dengan pot-pot tanaman, bertengger becak.  Sekali-sekali, lelaki itu mengayuh becak untuk menambah penghasilan.  Perawakannya tinggi semampai, tak berotot, membuatnya lebih cocok menjadi tukang, pekerjaan yang selaras jiwanya.   Pasutri itu digaji enam ratus ribu rupiah sebulan sejak tahun 1999 untuk mengurus rumah kos berkamar empat belas buah itu.  


Sepetak kamar itu, rumah gratis.  Namun, anak-anak beranjak dewasa dan suami-istri membutuhkan ruang biologis. Kadang-kadang mereka melakukannya di tengah ruang induk, di depan televisi, di atas hamparan tikar, dekat meja setrikaan, ketika anak-anak mereka tidur pulas dan menguasai dua kasur kecil.   


Lalu kamar utama besar milik majikan itu, selalu mengajak.  Bukankah mereka yang memegang kunci ? Membersihkannya ? Menyikat kamar mandinya ? Memandikannya dengan karbol anti kuman ? Mengganti tirai secara berkala ? Bukankah bercinta itu sakral dan membutuhkan kelapangan ?


Maka Kueni menggerutui kegaduhan.  Saluran-saluran air itukah yang mengirimkan lenguhan dan suara sapi digorok ?  Ia menyumpahi kualitas material bangunan yang tak meredam suara dan kesialan yang menimpanya sejak menghuni kamar itu.  Di ambang keputusasaan Kueni mempelajari kegaduhan tersebut.  Apakah orang miskin bercinta lebih sering dan atraktif?  Pagi-pagi mengeluh perihal utang dan uang sekolah anak, malam-malam lenyap dalam pergumulan babak demi babak ? Mengapa mereka melakukannya sangat sering ? Biasanya teror itu ditutup oleh guyuran air di kamar mandi.


Esoknya, Kueni akan mencermati keduanya, teroris bagi hidupnya kini.  Perempuannya gempal, selalu mengeluh. Sebagian besar waktunya bekerja di perusahaan catering dengan jam kerja tak tentu. Kerap ia lalai menyediakan makanan untuk dua kanak-kanaknya yang pada jam usai sekolah langsung berkeliaran di gang-gang.  Kecantikan perempuan itu ditelan nestapa.  Sebagai perempuan, ia memanggul lebih banyak tuntutan.  


Sang Suami, Si Semampai berkulit kelam, selalu batuk dan merokok,  menggerutui istri yang sibuk sehingga dia harus  memasak mis instant untuk dirinya dan kedua bocah itu.  Ia ingin dilayani serupa suami-suami lainnya.  Namun saban kali menuntut hal tersebut, perempuannya menyalak.   Perempuan pengomel itu merasa penafkah utama.  Tidak layak lelaki lemah itu memiki ide-ide lebay yang menyusahkan.    


Perselisihan keduanya kerap dipertontonkan di depan Kueni,  yang karena statusnya sebagai seorang ibu yang bersekolah S3,  dianggap bakal maklum akan pertempuran-pertempuran kecil.  Kueni lalu akan mendengar keluhan-keluhan domestik berulang sehingga kadang-kadang ia menghindar karena bosan.  Suatu ketika becak dekat teras itu terguling.  Perempuan gempal itu mendorongnya penuh amarah karena sang suami tidak mencuci dua ember pakaian yang telah tiga malam diinapkan dan membiarkan jemuran diamuk hujan sesiangan.


Namun malam demi malam, segaduh mereka bertikai, segaduh itu pulalah mereka bercinta.  Dalam semalam, Kueni menghitung, mereka bisa melakukannya lima kali.  Kueni bercerita pada karibnya.  Kau salah hitung dan salah mendeteksi orgasme, sahut karibnya itu.  Jikapun kau benar,  ramuan apa yang disesap lelaki itu ? Semalam lima kali untuk lima hari dalam seminggu ?  Tidakkah mereka hebat ?


Pasangan gaduh itu kembali berebut oksigen ketika sang majikan berkunjung beberapa hari. Kembali berdesakan di rumah mereka, sepetak kamar itu.  Rumah induk mereka lewati ketika menyapu, mengepel dan melayani makan sang majikan.  Sang Nyonya bertubuh jangkung dengan pembawaan aristokrat, memberi perintah dengan suara melengking-lengking.  Sang Tuan bulat pendek dengan perut buncit, pensiunan lumayan kaya, menyetal televisi dengan volume keras, sangat menggemari berita politik.


Pasangan majikan itu -tentu saja-menghamparkan badan di atas springbed dan sprei harum itu. Aroma Molto Biru bercampur ruap karbol.  Tak ada intervensi aroma yang lain.  Mereka beristrahat  damai dan berbahagia.   


 

0 komentar: