24 July 2006

EKSISTENSIALISME MAGALIA

Perempuan tanpa wajah, menggeletar kesunyian. Sem -
poyongan menegakkan diri di serakan reruntuhan. Se -
lesai sudah episode nyonya besar yang merintang hari
mengobrol berjam-jam melalui telepon, dan mematut -
matut diri depan cermin –yang ternyata selalu berdusta-
sembari menanti suami pulang membawa segepok uang.



Bertahun-tahun lampau sebuah kereta memintasi desa
Magalia. Lelaki kembara menelusur jalan setapak yang
merekah. Magalia akhir belasan tahun, mematung me-
natap ilalang kecoklatan. Di udara yang kering, Eros
mengambang malas, membidikkan anak panah seba-
rang. Kecelakaan sejarah, maka Magalia dan lelaki
kembara menikah, meninggalkan desa yang tanahnya
merekah seperti bolu kukus kebanyakan ragi.



Kota teluk dengan laut yang kemilau ketika pagi, ke-
emasan ketika senja, kelam dalam malam. Magalia me-
lahirkan sekian anak melalui deburannya. Gadis muda
yang dulu membayangkan etalase toko baju di kota-
kota, bermetamorfosis menjadi nyonya sadar diri yang
mencintai uang.



Eksistensialisme Magalia: kesadaran (akan) dirinya be-
rada sebagai kesadaran akan uang
. Identitas Magalia
berasal dari uang dan apa yang bisa dihasilkan oleh uang.
Rumah menjadi etalase benda-benda dan ruang pameran
abadi. Magalia menyerap referensi dari televisi, majalah
wanita, rumah-rumah tetangga.



Benda-benda mengisi ruang tanpa sisa. Lelaki Magalia
menciptakan dunia senyap di sebuah ceruk yang tersisa
melalui keributan. Lelaki yang semakin pendiam dan me-
nyingkir. Lelaki yang berbahagia di atas perahu yang ter-
ayun-ayun di teluk dan di belantara buku. Lelaki yang
merenungi Eros yang mencipta sejarah karena meng-
apung kurang kerjaan di udara sebuah desa yang gering.



Lalu kehidupan menjadi sesuatu yang apa boleh buat.
Magalia mabuk uang selalu terjerembab depan pintu je-
lang pagi. Orang-orang asing datang dan pergi mengge-
dor pintu, mencari dan mengumpati Magalia. Lelaki
dan anak-anaknya hidup dalam kecemasan. Magalia
mengidap insomnia, hanya bisa tidur dengan susah se-
telah pelupuk matanya ditempelkan uang kertas atau
hidungnya diruapi aromanya.



Suatu pagi setelah tidur panjang yang penuh derita, Ma-
galia terbangun di atas serakan puing reruntuhan. Tiada
sesiapa. Senyap yang membekukan sumsum tulang. Ko-
ta serasa mati. Dari langit keabuan, hujan dedaunan
kering, seolah dikirim dari negeri kemarau. Magalia
mencari wajahnya melalui sepotong cermin diantara
reruntuhan, dia tak menemukannya.



Magalia menggeletar kesunyian, sama seperti bertahun-
tahun lampau, sebelum sebuah kereta memintasi desa
dan membawakannya kembara.

WARUNG KOPI KECEBONG

Pengobrol berbagai usia campur-baur merintang waktu
dan berdiskusi segala hal. Filsafat, penyanyi dangdut,
film, politik. Biasanya lalu bermuara pada pertengkaran
antaragama, antaraliran, antarideologi. Kau bisa saja men-
dadak jadi tokoh antagonis antiagama hanya gara-gara
berseberangan dengan pendapat terbanyak. Kau diguyur
ayat-ayat yang mendeskripsikan tetanda manusia kafir,
murtad, musyrik, mungkar dan sejenisnya. Ada yang me-
nyukai peran Tuhan hingga berlaku seperti-Nya karena
merasa paling mampu memahami bahasa-Nya. Atau, ia
menyadari menjadi Tuhan lebih enak ketimbang menjadi
manusia yang ringkih dan serba terbatas.


Pernah kubilang sepakbola lebih mampu mempersatukan
umat manusia ketimbang agama. Dibandingkan perang
berdarah-darah karena konflik agama, kerusuhan yang di-
ciptakan para hooligan Inggris atau bonek Jatim, tidak ada
apa-apanya.


Demi meletakkan agama pada tempatnya yang sakral
dalam arti tidak mungkin agama itu tidak sempurna, yang
selalu diusung adalah ujaran bukan salah agama tetapi
umat beragama
karena agama seharusnya menjauh dari
kemungkinan melahirkan kekacauan. Pembuat kekacauan
adalah manusia.


Jadi manusia yang seperti apakah yang mengacaukan fungsi
agama itu? Penerjemahan agama seperti apakah yang mem-
buat manusia dirubung hasrat memaksakan pemahaman
tunggal hingga perlu mempertahankannya dengan berkelahi?
Untuk apakah hasrat menjaga agama dari pencemaran yang
digelontorkan pandangan yang berbeda?


Warung kopi di tepi sungai besar, makin pengap ketika
perdebatan menggemuruh. Tua-muda beraduk. Kadang-
kadang kupikirkan sebuah kelas matrikulasi karena bah-
kan persoalan pemahaman bahasa Indonesia bisa jadi
biang kerok. Bagaimana orang-orang ini mau memba-
has tema-tema besar dengan kosa kata terbatas? Bagai-
mampu mengurai konsep-konsep abstrak?


Dalam serba terbatas itu lantas ngotot, mau berkelahi.A-
ku jadi kecut, seperti melihat diriku sendiri terbenam di
dasar sumur gelap : seekor kecebong yang mau menje-
laskan tentang samudera.


Menyukai kopi aku terjerat di warung tepi sungai besar.
Melibatkan diri dalam segala pembicaraan. Memandang
Pak Tua bebal yang selalu memamerkan kebodohan. Me-
nyimak rayuan lelaki terhadap perempuan. Menggebrak
meja karena tidak terima disebut antiagama. Menyindir
seseorang yang saleh tetapi lugu. Terbahak-bahak akan
humor dan sarkasme orang lain.


Warung kopi tepi sungai besar, tetirah segala orang. Para
kecebong mempertikaikan samudera, di dasar sumur purba
yang tak terjilat cahaya.

SORE DI TAMAN

Ketika orang dewasa mengurai makna bagi kanak-
kanak, diperlukan taman bermain dengan rerumput-
an empuk, papan perosotan, pepohonan rindang de-
ngan cecabangan rendah. Bagi kanak-kanak, hidup
seharusnya menggembirakan, meski orang dewasa
memekik-mekik, saling mengumpat dan berperang.


Sore itu udara hangat. Anak sulung yang irit kata-
kata memakaikan jaket bagi adik bungsu yang be-
berapa hari meriang. Anak tengah makan kue bi-
kang yang dibeli setelah berkitar-kitar kota kecil
dengan lautnya yang tenang. Ayah memandang
ketiganya penuh kasih-sayang, perasaan yang se-
ring tak nampak dalam kesibukannya yang lalu
tenggelam dalam histeria ibu.


Ayah dan ibumu telah berpisah, ayah membuka
percakapan. Bertahun-tahun kami tak berbahagia
dan merusak kenyamanan kalian. Ada pasangan
yang lebih bahagia dan sehat ketika mereka ber-
pisah, meski itu berat, karena memiliki anak-anak.


Si Sulung berkata lirih, tidak apa-apa, ayah. Anak
Tengah membisu. Ketika ayah bertanya kepadanya
mau tinggal dengan ibu atau ayah, gadis kecil itu
kebingungan. Ia lalu berkata: “Mau sekolah di sini,
dengan ayah…tapi…ibu..di mana..?”

Si Bungsu bertempik sorak memandang capung ter-
bang riang. Meriang meruap karena girang bertemu
ayah yang angkat kaki dari rumah sejak sebulan lalu.
Dalam perasaan senang tetapi dibalur kebingungan,
Si Tengah bertanya pada Si Bungsu yang bertepuk-
tangan: “Adik mau ikut siapa?”


Dua capung berkejaran, mengapung di senja hangat.
Si Bungsu menjerit terpesona. Dua capung, seperti
ibu dan ayah, mendesing-desing. Adik, adik mau
ikut siapa? Mau tinggal dengan siapa? Si Tengah
mengulang tanya, mendesak.


Masih bertempik sorak, berjingkrak-jingkrak me-
mandang sepasang capung, Si Bungsu menjawab
riang: “Itut ayah! Itut ayah….. dayang-dayan!”*



(*ikut ayah!ikut ayah! …jalan-jalan!” )

17 July 2006

LOTUS

Lotus mengapung di permukaan tasik. Berembun,
berdesir lembut Sebuah pedati memintas mengangkut.
lelaki sekarat, sepasang mertua, gadis kecil dengan
mata berbinar senang. Gerak terseok pedati seolah
tamasya ke taman berbunga. Gadis kecil menggelitik
telapak kaki si sakit yang segera melenguh. Kepalanya
segera diketok sang ibu.

Di kota, si lelaki berhenti sekarat. Gadis kecil menjadi
janda. Waktu itu, India tahun 1938, ketika Mahatma
Gandhi membangkitkan perlawanan terhadap Inggris
dan menaikkan harkat The Untouchables, kelompok
tanpa kasta dalam struktur sosial masyarakat Hindu-
India.

Seorang lelaki memajang Gandhi di dinding rumahnya.
Lalu ia keluar, menerobos kota. Gadis kecil di pedati
kini berkepala plontos mengenakan kain serupa baju
ihram lelaki muslim, ditemani perempuan semampai
rupawan. Kepala plontos penanda janda baru, rambut
lebat terurai milik perempuan semampai yang
tubuhnya juga digelung kain putih, penanda ia bukan
janda yang baru.

Ketiga orang tersebut bersirobok. Narayan, lelaki yang
menjulang itu, terkesima seolah menatap Dewi Durga.
Janda kecil tersenyum, menyadari ketertarikan dua
orang dewasa.


Di sudut kota, ada sebuah bangunan buruk dan tua.
Temboknya berwarna perunggu, mengelupas, berlumut,
menebarkan kemurungan. Membekukan waktu, men-
jeratnya, dan menghentikannya. Di depan bangunan
tersebut ada kolam yang airnya berasal dari sungai yang
membelah kota.

The Untouchables di India, dalam latar sosial waktu
itu, bukan sekadar kaum Harijans, melainkan juga
perempuan yang ditinggalkan suami, para janda.
Mereka satuan yang tak boleh disentuh, baik secara
harfiah ataupun bukan. Istri adalah sebagian suaminya,
maka ketika suaminya pergi, lenyap pula sebagian diri,
kalau tidak malah keseluruhan.

Chuyia si janda kecil dan Kalyani, perempuan semam-
pai berwajah Durga itu, tersekap di bangunan murung
tersebut: Rumah Para Janda. Tradisi menikahkan anak
perempuan di bawah umur di India, menghasilkan
kanak-kanak yang terpaksa menjalani tradisi kejandaan,
merampas masa bermain.


Ketika suaminya meninggal, ada tiga pilihan untuk
istri yang ditinggalkan: Pertama, melakukan sati.
Kedua, menikah dengan adik suaminya. Ketiga, hidup
sendirian dengan kode etik yang telah ditetapkan tradisi.
Mereka harus mengemban simbol dukacita sepanjang
hayat


Maka apakah gunanya Narayan mematung menatap
bangunan tua itu sembari mengharap Kalyani keluar
dan membalas hasratnya? Masyarakat telah menetap-
kan Kalyani untuk tidak berharap menikah kembali.
Menghitung waktu di Rumah Janda hingga maut men-
jemput dan mempersatukannya dengan suami yang
mungkin belum sempat terlalu dikenalnya di dunia,
sembari berharap terlahir kembali sebagai lelaki.


Dalam fiksi Gone With The Wind karya Margaret
Mitchell, tokoh Scarlett O’hara memberontak ter-
hadap selubung dukacita: Ia berdansa dengan lelaki
asing pada acara amal. Pemberontakannya lalu meluas
tidak hanya mencabik kostum hitam atau menari, tetapi
menjadi sais atas keretanya sendiri, berbisnis, dan -
yang paling penting- mengendalikannya.

Tokoh fiktif Kalyani tak seberani Scarlet O’hara.
Ia sempat melawan. Menerobos tabu, menatap, ber -
bicara, merapat dengan lelaki yang dicintainya, ber-
sedia menikah dengannya dan hidup di kota yang
lebih memaafkan para janda. Tetapi akhirnya ia me-
nyerah, lalu menenggelamkan diri di sumber kehidupan
manusia: Air.

Chuyia kecil kehilangan kawan. Tertinggal dalam
kumpulan perempuan menanti maut sebagai pembebas.
Bibi X yang akhirnya mempertanyakan teks suci yang
memerihkan hidup perempuan janda, melarikan Chuyia
yang demam ke kerumunan rakyat yang hendak men-
dengarkan pidato Gandhi. Dialah yang akhirnyamen-
jadi penerobos tradisi. Ketika kereta membawa
Gandhi meninggalkan kota, Bibi X mengoper Chuyia
kecil pada Narayan yang terjepit kesesakan gerbong,
sembari berseru: “Berikan anak ini pada Bapu!”.

Bapu, lelaki setengah telanjang itu, selalu menjadi
celah harap akan perubahan.

KOTA BERLARIK CAHAYA


Kota-kota tumbuh menuju kesamaan. Kematangannya
diukur dari serakan pencakar-pencakar langit dan pe-
menuhan syahwat belanja.

Sepotong kata terlupa: renta. Sungai-sungai gering..
Udara lebam menyesakkan. Terlalu banyak mesin di
jalanan. Hutan sisa sepotong nama, ditandai ingatan.
Musim tanpa isyarat. Sebuah jalur yang dinamakan
Malioboro, yang dulu ditabuh angin beringin, kini
pusat kerumunan yang mulutnya hingga ke bawah
tanah alun-alun.

Kota-kota tumbuh saling meniru dan merampas. Maka
orkes hujan segerombol kodok di tegalan menjadi
ketakjuban baru bagi kanak-kanak. Ketika laut surut
dihisap tsunami, mereka kecipak riang menangkap ikan
menggelepar. Mereka buta penanda, sebagaimana orang
dewasa.

Rongga di bawah kota kami kini meruapkan gemuruh.
Lindu menyisakan ketakutan, rumah baru enggan di-
dirikan, lebih baik tidur dalam angin. Sesekali Merapi
menampakkan diri dalam latar tanpa kabut, seperti
senja kemarin, ketika kutelusuri Kaliurang. Puncaknya
berlapis suspensi merah samar. Ia mengirim rasa ke-
kesendirian dalam kepungan.

Lalu selarik cahaya putih kemerahan tiba-tiba hadir
di langit, memanjang dari timur laut ke barat daya.
Orang-orang mencari makna, berusaha keras membaca
alam agar mampu memanggulnya jika berontak.


Aku memandang sejenak laptop di atas meja, di bawah
dua rak berbeban ketika mau keluar, membelah gerimis
pertama bulan Juli, kiriman badai Bilis Filipina. Apa
yang melesat dari perigi imajinasi ketika memikirkan
selarik cahaya melengkung di atas kota yang bergemu-
ruh?

Gerimis menggamit kelam. Aku bersin dan batuk,
dalam imaji aurora borealis merayapi kota yang
kehilangan jatidiri. Berasa senyap dalam kepungan,
berasa Merapi.

GELEMBUNG

Ibu tiga anak yang tak bisa diam. Rokoknya Kansas
hijau, dua kotak sudah. Aku terbatuk-batuk dalam
gelembung asapnya. Di luar terik tiba-tiba meredup
menambah musabab pilek alergikku. Ia perempuan
kuat, pengobrol yang menggembirakan, ibu yang funky.
Ia meretas kegelisahan. Anaknya sidang sarjana.

Dua kotak sudah, segelas kopi Medan, sepiring gorengan
mendingin. Obrolan bergulir, tiba jam sebelas siang.

Gelembung penghapus resah.

Dulu di Rumah Yang Satu koridor bau rokok melekat
pada kamar dan tubuh Marty, lalu meruap sepanjang
selasar. Malam-malam ia mengetuk pintu meminjam
tubuhku, lalu memelukku, membagi resah. Setelah me-
rasa nyaman ia kembali ke kamarnya, meneruskan pola
pola arsitekturalnya, dalam gelembung Gudang Garam.


Gelembung itu pula dibentuk Far dalam kasmaran gagal.
Sebungkus Dji Sam Soe dari tas Pak Lim, disesap ga-
mang. Diumpetin di ceruk kamar ketika Fif masuk bawa
komputer. Perempuan+jilbab+ merokok, kadang-kadang
dipandang campuran ganjil. Maka cukup penting tak me-
nampakkan diri menjamah gelembung karena dikaitkan
dengan moralitas. Perempuan baik-baik itu tidak merokok,
demikianlah sabda masyarakat puritan. Rokok di sini bukan
soal bahwa ia merusak kesehatanmu, tetapi moralitasmu.


Dalam gelembung asap pun ada moralitas, dan hanya ber-
laku untuk perempuan.

JERATAN PENGGILA, BENDERA DI JENDELA

(Sihir Part Three)
Terik mencipta keluh seribu. Teh dengan es batu meluncuri
tenggorokan, rasa melati. Membahas kemungkinan sekolah
hukum, merutuk abad komersialisasi, menggumamkan
simpati pada korban Ujian Nasional, mempercakapkan
ukuran kecerdasan manusia. Koran teruyak di sofa.


Kurapal isi koran: Zinedine Zidane penyihir abad ini. Lalu
kutanya perempuan mungil yang selalu berbicara lamat itu:
Tahukah kau mengapa? Bukankah dia bukan lulusan
Sekolah Penyihir Hogwarts?

Dan bencana.

O, kau tak tahu mengapa dia disebut penyihir agung? Dia
memiliki teknik individual yang mengagumkan. Seluruh
sudut tubuhnya mampu menggoreng bola. Dia penari jiwa,
dengan emosi terkendali. Dia stimulator bagi kelompoknya.
Dia sumber keindahan.


Maka resume piala dunia menjeratku tanpa ampun. Terik
kemarau pencipta keluh seribu tak ada apa-apanya dalam
menghasilkan derita, ketimbang resume sepakbola yang
disampaikan penuh energi sulit terjeda. Satu-satunya sisi
baik diriku, pendengar yang baik dan sabar, makin mem-
bangunkan gairahnya yang tadinya laten. Aku menyesal.


Fanatismenya merangsangku akhirnya membaca ulasan
sepakbola tanpa pernah menontonnya. Mendadak kami
nyambung, seolah setara menggilai bola. Ini aneh. Bagai
mana bisa penonton para penonton sepakbola menjadi
komentator sepakbola? Komentator jadi-jadian.
Komentator ngepet.

Berjalan di gang kemudian , bendera Jerman menjuntai
indah dari kamar seseorang, sebuah rumah yang gerbang
nya selalu terkunci seolah tak berpenghuni. Sepakbola
menghadirkannya tetanda kehidupan. Mata kawanku
berbinar, memulai lagi resume piala dunia.


Belilah bendera kesebelasan jagoanmu, sahutku. Kibar-
kan di depan rumah kita. Bendera Portugal saja, negara
paling miskin diantara yang lainnya. Di Maluku, polisi
menggusur bendera-bendera kesebelasan di rumah-
rumah penduduk, balasnya. O, jangan takut, tukasku,
Maluku beda dengan Jogja. Di kota ini, takkan ada
bendera separatis diantara bendera kesebelasan sepak
bola.


Gering kemarau mengerutkan kami, piala dunia 2006
melelehkannya. Terkekeh menelusur Karangwuni.

PASAR MALAM

(Sihir Part Two)
Jerman lawan Argentina. Martabak. Setoples kacang. Teh.
Kopi. Empat anggota tetap klub penggila bola, satu anggota
tidak tetap yang dijejali matrikulasi, satu anggota tertolak
karena layak matrikulasi tapi tak merasa. Satu menggarap
skripsi di kamar. Dua lelaki di rumah induk. Satu di meja
makan membaca Sartre. Ada dan Kesadaran. Etre-en-soi.
Etre-pour-soi. Kesadaran Tematis. Kesadaran Non Tematis.


Pekikan. Geraman. Kepalan tangan. Tangan yang saling
genggam. Teriakan. Lima perempuan lebih gemuruh dari
dua lelaki. Rina ganti baju, dari piyama ke kaos Argentina,
asli, memang buatan Argentina, dibeli di Argentina.


Masuk ke kamar. Pintu terpentang agar keriuhan terserap.
Menelungkup. Meneruskan Sartre. Kesadaran (akan) diri -
nya berada sebagai kesadaran akan sesuatu
. Gemerisik
kertas kamar sebelah. Anggota klub yang tertolak, menero –
bos. Ilusi malaria-nya sejenak terlupakan, terpukau pada
buku-buku di rak: Dikaguminya, bukan karena sesuatu itu
hebat melainkan karena ia pembeli buku sekadar. Orang
yang memiliki jumlah buku melebihi dirinya lantas disebut
hebat.


Jeritan panjang. Gedebuk kursi. Ketukan ritmik di meja.
Dan, blaaar! Kukira lindu lagi. Malam pecah, berhamburan
dalam udara dingin. Sorak-sorak. Martabak ludes, kacang
disentuh sekadar. Gemuruh dua lelaki, ditelan gemuruh
lima perempuan.


Siapakah mahluk yang bisa tidur malam itu?


Cenayang di televisi sore sebelumnya ternyata tak cukup
sakti. Berapa petaruh yang wajib mencekiknya? Ia bilang
Argentina. Cenayang tetap butuh daya analisa tinggi, agar
memecahkan kode-kode dunia gaib lebih akurat. Bukan
sekadar merapal mantra dan menyogok dengan sesajen.


Argentina rontok adu penalti. Rina meriang. Hingga
siang tetap berkaos Argentina. Asli, buatan Argentina.
Dibuat di Argentina, dibeli di Argentina.