26 May 2011

PEREMPUAN KUALA

Makin ia menepi. Kemarin masih ia hidup di sepetak kamar sumuk, di belakang salon yang punya sepasang angsa galak.  Tampang terakhirnya musim bunga.  Seolah kebahagian paripurna.  Beterbangan belalang remaja.  Ia bukan penyair, tak suka sajak.  Seorang lelaki mengirimkan penanda : permen mawar dan tepi-tepi malam. 

Kotanya baru tumbuh sebagai peniru.  Ada kafe berusaha beromansa dengan remang-remang, spaghetti, kentang goreng, meja payung.  Di situ ia dan lelaki itu membenamkan kebingungan.


Ia lalu lenyap sebelum akhirnya kelihatan sebagai penduduk kuala itu.  Musim bunga beringsut.  Bedaknya ketebalan, berkelahi dengan kulit muka.  Rambutnya tak lagi disetrika licin, Lemaknya menggelembung, mendesak t-shirt murahan.

Ia berhenti bercericit, berusaha menikmati hidup. Menikmati malam dengan minuman jahe, menonton bola bersama lelaki muda, siangnya tiduran ketika kota mengering.  Sekali-sekali ketika disergap kangen, ia merangkai-rangkai kata, lalu mengirimnya bersama angin : anakku, ibu kangen pada kalian.

23 May 2011

KLOSET dan TIRAI

Dua isme bisa nampak pada kloset : jika penutupnya terbuka, memamerkan lubang berair, lelaki itu pasti yang terakhir berkedudukan di situ.  Namun jika tertutup rapi, itu pasti aksi istrinya.  Satu kali saja pernah perempuan itu menegur untuk selalu menutup kloset. Kloset terbuka selalu menjijikkannya betapapun nampak bersih dan baru saja kuyup oleh antiseptik. 

Barangkali suaminya menganggap  hal tersebut tak penting. Ia tak pernah menutup kloset. Istrinya lalu membiarkan. Saban perempuan itu masuk dan melihat kloset terbuka, ia menutupnya. 


Setiap hendak tidur, perempuan itu menurunkan tirai. Tetapi jika lelaki itu masuk, ia menyingkap tirai itu separuh, membiarkan berkas rembulan atau lampu menyerobot. Perempuan itu mencela. Mengapa memangnya ? Lelaki  itu bertanya sembari memeluk guling. Perasaanku tidak enak, seolah ada seraut tampang mengintip, balas perempuan itu.


Demikian keduanya hidup bersama. Lelaki tak menutup kloset, perempuan datang menutupnya. Perempuan menurunkan tirai, lelaki menyibaknya separuh lalu ketika lelaki itu pulas, perempuan kembali menurunkannya.

16 April 2011

ROB PILATUS

Dua belas tahun sesudahnya kematiannya terasa sia-sia.  Kini bahkan lypsinc menjadi komoditas riuh-rendah. Polisi periang meniru Shah Rukh Khan, mewujud selebriti dadakan dalam sorak-sorak. Takkan ada depresan menyesap alkohol dan narkoba. Kemudian memilih mati dalam sunyi di ceruk sebuah hotel. 


Bahkan jika badut berjingkrak-jingkrak di panggung, bersuara Lady Gaga, ia akan memiliki kerumunan penggemar. Berikut orang-orang yang menganggapnya biasa.  
 
 
Di dunia yang serba artifisial ini, apa yang tidak biasa ? Seseorang berpenghasilan lima juta per bulan memiliki sepuluh kartu kredit.  Perempuan beranak-pinak lima tahun sebelum mendaki altar pernikahan.  Seorang diktator dikeroyok demi prospek bisnis minyak negara lain.


Bahwa ia menciut dan sakit pertanda ia moralis. Minimal percaya sepotong kebenaran.  Ah, padahal ia sekadar berjingkrak-jingkrak dan menggerakkan bibir.  Pada masa itu, aku sungguh menggemarinya dan Fab. Sebuah bus ringsek dalam hujan, anak-anak SMA, Blame it On The Rain menuju dataran berkabut.  
 
 
Segelintir benar-benar penyanyi sekarang.  Teknologi audio mengubah sember menjadi merayu.  Rob, sesungguhnya perilakumu mendahului zaman. Tapi begitu nasib kebanyakan peretas.  Ketika segerombolan menghujatmu, seharusnya kau bergeming dan terus berjingkrak.  Industri membentukmu, tidak membelamu, mencampakkanmu.


Kau bisa membaca komentar di YouTube sekarang, dari duniamu yang berpendar itu, betapa banyak berkata : aku tidak perduli suara siapa, tapi kami merindukan Rob dan Fab.  Pemilik suara tampil namun orang-orang merindukan Rob dan Fab yang berjingkrak, rambut tergerai gimbal, badan kekar, bantalan di bahu.


Blame it On The RainRest in Peace, Rob.


26 November 2010

IBU

Ia berjalan-jalan saban mentari mulai mengapung.  Lamat, ritmik, menghitung desau angin.  Kampung riun-rendah dengan pengeras suara di masjid-masjid itu, ditinggalkan sejenak.  Di sini, kesenyapan belaka.  Dan gigil. Bahkan dinding-dinding rumah terasa mesin pendingin buatan itu sendiri.  Ia berjaket tebal meski dalam ruang.   Ritual bersama seberkas cahaya pagi membebaskannya dari rasa berair.


Menapak jalan beraspal. Menatap garis belantara kejauhan yang mengirim penanda kehidupan.  Sekali-dua berpapasan musang bersijingkat.  Garasi-garasi rumah memamerkan mobil paling kurang tiga Rasa getir dibawanya di ruang tengah, saat menyeruput teh encer hangat dan AC dibungkam.


Seperti biasa ia menyesali sejarah.  Menggelar kisah berulang. Usia bikin suaranya selalu terdengar bergetar : " Aku kerap bertanya padanya, dimana kau pungut perempuan semacam itu ?"


Lawan bicaranya bikin teh kental panas. Mendengarkannya. Berusaha menghiburnya karena apalagi yang hendak dilakukan selain mensyukuri hidup hari ini ? Enam belas tahun beringsut begitu saja tak bersisa.  Tak ada jejak seorang lelaki pernah bekerja keras. 


Sejarah adalah nasib.


Televisi menyiarkan warta haji, matanya telaga.  Serupa ibu-ibu lainnya sejak dulu ia bermimpi anak lelakinya-lah yang menggelindingkannya ke sana.  Anak lelakinya yang konon bekerja mendulang emas. Seorang perempuan menumpahkannya ke laut tak tepi, menguap ke jagat tanpa nama.



" Semoga ada rezeki untuk Ibu, doakan saja, " Sekali lagi lawan bicaranya menghibur, tersentuh dan iba.  Ia menghitung-hitung simpanan dan berpikir-pikir. Ia memangku gelas berisi teh. Berusaha mengalihkan topik ke hal lebih riang.  Di luar mendung mendadak menggantung dan ia tak hendak merasakan kesedihan.


Perempuan tua itu, dulu, memanggul botol jamu, menjajanya berkeliling. Suaminya menjual bakso dorong.  Membesarkan empat anak dalam rumah sepetak di ceruk padat dalam sebuah kota besar. Meretas hidup dimulai ketika kereta ekonomi memindahkan mereka dari desa.


Satu dari empat anaknya mendulang emas. Namun suatu masa bertemu seorang perempuan yang melucuti sesuatu yang bisa dibilang.  Bahkan penjaja jamu dan penjual bakso dorong masih memberikan bukti keringat dalam bentuk rumah kecil di perkampungan sesak, Sang Pendulang Emas malah tak memiliki sesuatu. Perempuan itu menghabiskannya untuk jagat tanpa nama.


Kini, perempuan tua menyeruput teh encer-nya ditemani segepok obat berbagai penyakit lansia.  Doa dalam ibadah terus dilantunkan namun kesedihan tetap tak terelakkan.  Andai ia bisa mengembalikkan butir-butir pasir dalam jam tabung - ia akan memilihkan istri untuk puteranya dan membelokkan panah dewa Eros.



Sejarah adalah nasib.


Lawan bicaranya, menantu barunya, sekali lagi menghiburnya, menghindari kesedihannya, mempercakapkan menu hari ini dengan nada riang lalu kembali menyeruput teh.  Sesekali ia sekilas menyapu sosok perempuan tua itu, menyelami hatinya, harapannya, impiannnya.

22 August 2010

MEMBUKA PINTU

Membuka pintu kau turunkan kabut. Digulung lampu-lampu merkuri. Kabut keemasan gamang di awang-awang. Sejenak mencarimu :  keindahanmu sublim.  Bukan dalam dogma.  Beberapa tahun lampau seorang kanak-kanak mencoba sesap jejakmu dari semilir angin dan teratai gemeretak di kolam.  Dan berkas cahaya dini ketika ia terbangun. Guru dan kitab menjelaskan isyarat seribu bulan.


Ia menghendaki candra yang kau beri dengan begitu pemilih.  Bertahun-tahun kemudian ia tak lagi memburu candra.  Waktu adalah labirin dan sarang lelaba.  Hidup menggelinding. Mengeras.  Kau lalu sekadar gagasan purba dan sahwat sekolahan.  Lampu-lampu kota lebih menggelinjangkan.  Secangkir kopi dan jazz lebih penting dipikirkan. Kau telah cukup dijelaskan para ilmuwan.


Kabut keemasan berputar-putar dalam kelam.  Hasrat asali ini rupanya tersimpan senyap. Di masjid kau dimeriahkan dan disebut.  Namun mengapa kita bertemu ketika aku membuka pintu, memandang belantara itu, cahaya itu, kunang-kunang itu, gemerisik itu, kabut itu?

14 June 2010

GADIS RAMBUT JAGUNG

Si Rambut Jagung menemukan pintu segera ditutup.  Ibu Guru menjual jasa untuk ilmu yang dibeber. Ibu Guru berupah sekarat dan saban bulan menyicil motor.  Hari ini tidak ada pelajaran untukmu, Gadis Rambut Jagung,  dua bulan kau menunggak pembayaran.  Ibu Guru bicara dari balik kerai bambu.  Saat itu hujan hendak bersijingkat. 


Terperangah Si Rambut Jagung,  mendekap buku pelajaran. Semangat belajar dan binar-binar kebanggaan yang sedari tadi dipanggul dari sekolah,  melayang bersama  desiran angin kelabu.  Jarang sekali ia begitu bangga dan menghargai diri sendiri hingga dirinya diumumkan mendapat nilai terbaik.  Ia mengira dirinya benar-benar tolol seperti cercaan Mak dan Bapak.  Tetapi tadi pagi  ia menyusuri gang dengan rasa tempik sorak.  Ia bukan anak bodoh.  Ia ternyata bisa juga jadi anak pintar.  Ia tidak ingin lagi malas-malasan dan banyak omong jika Ibu Guru Lena memberi les privat.


Ibu Guru Lena  mendelik.  Suaranya tegas berkuasa.  Kegembiraan Si Rambut Jagung menggeletar ke udara.  Pintu tertutup.  Kerai membentang penuh.  Ia kembali ke petak sempit, mendekap buku pelajaran,  mencoba mencerna kesunyian,  menyerap detak jam.   Ia mau bertanya pada Mak makna kata-kata orang dewasa,  sebentar. 


Menderas hujan di atas genteng.  Gadis Rambut Jagung yang kecewa,  teronggok bersama setumpuk pakaian belum disetrika, di atas seprei yang sebulan belum dicuci.  Sepetak kepengapan.  Ia tertidur bersama hujan,  awal Juni.

28 May 2010

TULJINAH SEMAPUT

Di lantai bau pesing kucing Tuljinah mencangkung ditemani suami, saudara dan ipar.  Anaknya masih bau iler, rambut acak-acakan,  gelendotan minta duit jajan.  Gerobak mie ayam nangkring depan gerbang.  Hari ini Tuljinah diberhentikan tak hormat atas tuduhan serangkaian pencurian benda-benda anak kost.  Luinar memintas bawa jemuran, berusaha menguping dan sekadar memperoleh potongan-potongan keluhan.


Menjemur di pelataran cucian Luniar membatin : " Ya kembalilah ke desa, ke tanah keras retak yang mengidap musim gering tahunan, ketimbang berkeliaran mengenakan baju yang kau tilep dari tali jemuran".


Tuljinah menjaga kost seberang.  Suaminya tukang jahit,  lelaki jujur bersahaja.  Tuljinah kebanyakan mimpi.  Sekian usianya sesak angin kering yang dikirim gunung-gunung batu.  Orang-orang sana makan belalang, dimasak serupa udang galah.  Orang-orang sana kebanyakan hijrah,  menyisakan generasi tua yang kerap menatap dedahan pohon untuk pulung gantung.


Musim gering abadi tak sanggup memadamkan banyak mimpi Tuljinah.  Kota kemudian menyesakkan bak parade merangsang.  Etalase dan televisi mengajarkan cara berlagak.  Sepetak kamar untuk Tuljinah,  Si Penjahit dan Si Iler,  semacam kapal pembajak berteropong.


Sungguh para mahasiswi itu,  anak kost itu,  lagaknya mengagumkan.  Kamar-kamar mereka berpendingin ruangan.  Mobil mereka nongkrong di pelataran parkir seolah kepengen menggencet motor tua Si Penjahit.  Mereka tak lepas dari  ponsel yang namanya serupa buah -- Aha,  Tuljinah tahu namanya--  Blackberry.  Di sebalik pintu ketika Tuljinah menyapu koridor asal-asalan,  anak-anak sejahtera itu kadang-kadang nampak malas-malasan nikmat sembari menatap layar laptop.  Sepantaran Tuljinah,  namun mengapa nasib begitu pemilih.


Dan, sungguh celaka,  baju-baju yang dijemur sungguh indah dan girly.  Kawan-kawan desa Tuljinah bisa megap megap jika ia mengenakan semacam baju-baju itu.  Maka ketika suatu hari terdengar pekikan kehilangan dari penghuni kost,  Tuljinah merangsek dalam sandiwara empati.   Tuljinah malah melapor ke kantor polisi.  Polisi  -semacam inspektur Takur dalam film Bollywood-  mendata benda-benda yang lenyap tanpa gairah menelusur serupa Sherlock Holmes.


Puja  kawan-kawan di desa bikin Tuljinah bersemangat memperluas wilayah pembajakan.  Tersebutlah kost lainnya,  dijaga saudara kandungnya,  seberang kost yang dijaganya,  tempat Luinar itu.   Kebingungan kehilangan jemuran,  dompet,  tupperware dan lainnya,  disimpulkan lupa belaka.  


Tumbuh di tanah retak  bikin sel-sel kelabu otak Tuljinah tak kembang semestinya.  Penuh percaya diri ia berkeliaran mengenakan baju dan benda-benda orang lain, bahkan depan mata sang pemilik yang mengenal detil visual barang mereka.  


Dan tibalah hari ketika para korban bersatu dan menggelindingkan Tuljinah ke Inspektur Takur yang tak punya  hasrat menyelidik itu.  Massa mengamuk segera membangunkan petugas negara itu.  Mendadak ia jadi aparat  agresif yang menyerbu Tuljinah dengan interogasi.


Tuljinah,  perempuan dua puluh dua,  kini bermuka semaput,  menekuri koridor bau ompol kucing,  di kost yang dijaga saudaranya,  lelaki pemalas yang mengisi hari merokok, menonton bola dan menilep duit istri itu,  gulana membayangkan musim gering abadi,  tiwul, belalang yang di-udang-kan dan  orang-orang yang gantung diri di dahan pohon.

21 May 2010

MERINDUKAN MAK

Dua patah kata belaka, Mak. Mungkin Aku dan Adik bisa memahami mengapa kau tak pernah menyiapkan makan untuk kami, tidak bisa menemani kami belajar, tidak mendekap ketika kami tergolek tidur di kasur berbau peluh, ompol Adik dan rokok Bapak.  Mak meretas waktu seperti kuli serabutan bahkan ketika kebanyakan manusia tertidur.  Bapak teronggok di petak kita, menyesap rokok yang dibelinya di warung sebatang-sebatang, menyeruput kopi hitam,  nonton bola.  Mak yang beli gula dan kopi.  Mak yang bayar sekolah kami.  Bapak menjadi benar-benar Bapak hanya ketika keluarganya di kampung minta uang.  Ia bisa mengayuk becak yang Mak beli, jadi tukang ojek atau menggali sumur, tapi uangnya bukan untuk Mak, Aku atau Adik.


Tapi aku merindukan Mak bertutur seperti emak kawan-kawanku yang memanggil anak-anaknya Nak dan Sayang, tidak melulu menghardik kami yang kata Mak tidak bisa diatur, bandel, bodoh, tidak karuan dan ngeyelan.  Aku sedih Mak melihat kepala Nadhila diusap Bundanya, dipanggil Nak dan Sayang Bundanya.  Aku tahu Mak tidak bisa membawa kami makan di Mal, membelikan kami roti di Parsley, atau membacakan Aku dan Adik buku cerita.  Mak bilang bukan orang sekolahan dan tidak punya banyak uang.


Aku tahu sembari mengomel dan bertengkar dengan Bapak, butiran air mata rembes dari ujung mata Mak.  Mak capek, bukan? Hari ini bulek dari kampung datang.  Biasanya hal itu pertanda Bapak segera giat bekerja dan nampak jadi Bapak beneran.  Tapi biasanya minta ongkos pulang ke Wonosari pada Mak untuk menyetor hasil kerja kerasnya.


Asalkan Mak menyebut kami Nak dan Sayang, biarlah kami bikin mie instan sepulang sekolah.  Aku dan Adik kepengen banget diperlakukan lembut serupa Nadhilah. Mak mencintai kami, bukan ?

12 May 2010

HYMNE

Atas kelam memperanakkan hujan, lidah gerimis menjilat tanah,  membentangkanku aromanya yang bersekutu dengan angin, kerak tembok kelabu dekat tempat cucian dan genteng rapuh itu. 


Beberapa ini  hari aku membayangkan belantara dan tasik.  Meniru Narsisus mengenal wajahnya pertama kali di permukaan tasik.  Sungguh,  disebut apapun Kau,  eksistensimu hadir melalui matahati menepi.  Kegaduhan di sini mengaburkanmu.  Namun yang Kau serak dan menggelinding dalam ruang-waktu selalunya mencari asal primordial.




Kangen seperti ini betapa perih dan sukar.  Pemburu menyebutmu bersembunyi di sebalik tujuh ribu tabir.  Satu singkapan,  pendakian Pandawa ke Mahameru.  Senoktah cela menahan sehelai benang satu tabirmu.


Kau ganjil,  bikin aku menggigil sepanjang hayat !

05 May 2010

DILARANG MENULIS YANG BUKAN-BUKAN !

Kereta api harian. Mendesis-desis.  Wangi White Musk menguap rembang petang,  usai melesak pagi-pagi sepanjang jalan dan di ruang-ruang kantor.  Jalan raya gaduh.  Manusia penat kembali ke sarang.  


Mata belo perempuan melekat di layar netbook.  Hari ini beruntung mendapat kursi.  Ia buka diary online.  Hendak buang sampah dia : kejengkelan, kekesalan, rasa tak menerima keadilan, rasa sapi diperah.  


Dua sansak selalu : pekerjaan dan lelaki itu.


Lelaki itu lebih banyak tak hendak bekerja sama.  Dulu ia berpikir ada yang salah dalam pola pengasuhan.  Namun hipotesis apapun,  lelaki itu tetaplah jumawa chauvinistis.  Eloklah lelaki itu meniru perilaku  ideal.   Dia dan lelaki itu sama-sama penat.   Kembali ke sarang lelaki itu menuntut  Pulau Kapuk.    Anak usia setahun itu rewel, menuntut jatah, dan dia - Sang Perempuan-  diwajibkan mengatasinya seorang diri.


Dia perempuan yang ibu.   Lelaki tidur itu yang  bapak. 


Kereta petang, sebentar lagi kelam.  Perempuan penat yang geram.  Kekesalannya jadi kelabang kata-kata.  Diary Online.  Ia menuntut disamakan di situ.  Ia mengeritik lelaki yang mau enak saja itu.  Ia ingin lelaki itu rela bergantian dengannya bikin susu untuk anak, menceboki anak,  membikin kopi untuknya.


Menghibur diri sendiri dalam ekstase kata-kata,  membangun dunia harapan,  katarsis sengit dalam kemasan hipotesis dan kegenitan akademis.   Ia memasang banyak gambar : senyumnya kembang bahagia.  Salah satu gambar mengoyak harga diri lelaki itu.


" Hilangkan foto itu, " lelaki itu memberi perintah.


" Mengapa ? Itu cuma aku dan kolegaku."


Jadi,  ia menghapus gambarnya dan lelaki menawan itu,  mirip Ben Affleck.


Sekarang saban pagi lelaki itu menjadi semacam anggota Badan Sensor.  Kelabang kata-kata yang mendiskreditkan dirinya sebagai suami yang enggan memikul beban bersama istri, dihapusnya.   Kata-kata manis tentang dirinya ditetapkan.   Sesungguhnya ia lelaki manis.  Perempuan itu lupa ia banyak menghamburkan kado.


Ia cuma tidak sempurna, serupa homo sapiens lainnya.


Perempuan mata belo itu sekarang berhentu menulis.  Seperti pewarta masa lalu ia dilarang menulis yang bukan-bukan !


Subversif.

15 March 2010

EMAIL YEVITA UNTUK TORO (2)



Ya, sepertinya benar juga selentingan berita kau pacaran dengan kawan kuliahmu di pascasarjana.  Jadi aku maklum kau tiba-tiba berbaik hati mendoakan jodoh terbaik untukku  lalu  menyebut diri  lelaki yang tidak cocok untukku.   Memang itu gaya baik hati untuk meloloskan diri, Toro.   


Ada bocoran perempuan itu lebih menarik, pekerjaannya lebih baik dan anak tunggal.  Memang aku prospek menyedihkan.  Seorang perawat bergaji kecil dengan enam adik.  Berpacaran denganmu sepuluh tahun,  bersetia dungu menunggumu melamar,  kini diberkahi sebutan 'saudara',  dan dirahmati doa dan harapan terbaik darimu.   Sungguh manis sekali.  Semanis air sungai yang membelah kotamu.


Jawabanku : tidak.   Aku menunggu perasaanmu kembali ke tempar semula.   Jika katamu perasaaan bisa bermetamorfosis,  sepuluh tahun kemudian, dengan perempuanmu itu,  akankah lalu kau kembali jadi kepompong yang mencari-cari tempat melekat?


Yevita.

EMAIL TORO UNTUK YEVITA (1)


Yevita Tersayang,


Yevita,  aku tidak biasa menulis surat.  Sejujurnya aku tak mampu menentang matamu.  Barangkali karena aku merasa bersalah.  Sepuluh tahun kita sepasang kekasih.   Oleh suatu perihal tertentu,  mengapa kini aku lebih merasa kita bersaudara?  Seperti apakah pernikahan dengan rasa semacam ini ?   Ketika perasaan ini menyerbu,  aku selalu berusaha keras sedemikian rupa mengorek bunga-bunga dan ledakan api yang dulu mendekam di hatiku.  Rupanya bunga-bunga itu bermetamorfosis.   Ledakan api itu padam. 




Bagaimana ya.  Aku tidak biasa menulis surat.  Namun kita berada di dua kota berbeda.  Aku pun belum bisa menentang matamu.  Ringkasnya aku ingin mengajukan usul sebuah perpisahan baik-baik dan bersahabat.  Yakinlah aku bukan laki-laki terbaik untukmu.  Aku selalu berharap kau menemukan jodoh yang lebih tepat.  Anggap saja ini semacam prolog untuk pertemuan kita berikutnya.   Rasanya memang aku harus menemuimu di kotamu.  Kuharap matamu tidak serupa petir, seperti biasa ketika engkau marah padaku....




Salam Sayang
Toro

19 February 2010

BILIK

Di rumah besar itu, ada kamar utama dengan springbed empuk.  Ada kamar mandi dengan shower model kuno.  Pemilik rumah datang sekali-sekali.  Ketika itulah kamar utama itu dibersihkan gegas.  Sprei baru akan dibentang.  Debu-debu disapu hingga menyebar bergumul di udara dan hinggap di tempat yang lain.  Lantai akan berbau karbol.  Seikat bunga akan diletakkan di atas meja.  Seruap pun aroma jejak kehidupan sebelumnya ditelan cairan kimia bikinan pabrik, karbol itu.

Malam-malam sebelumnya, kegaduhan dari kamar tersebut menjengkelkan perempuan bernama Kueni.  Ia menyewa sepetak kamar di teras  -semacam pavilyun-  di sebelahnya.  Suami-istri yang membersihkan kamar induk itu, mengirimkan hiruk-pikuk : lenguhan dan suara sapi digorok.  Kegaduhan penumpang gelap.


Ada sepetak kamar lagi yang merupakan rumah bagi pasutri tersebut.  Didiami bersama dua anak usia sekolah dasar.  Berdesakan, saling merebut oksigen.   Dekat teras dengan pot-pot tanaman, bertengger becak.  Sekali-sekali, lelaki itu mengayuh becak untuk menambah penghasilan.  Perawakannya tinggi semampai, tak berotot, membuatnya lebih cocok menjadi tukang, pekerjaan yang selaras jiwanya.   Pasutri itu digaji enam ratus ribu rupiah sebulan sejak tahun 1999 untuk mengurus rumah kos berkamar empat belas buah itu.  


Sepetak kamar itu, rumah gratis.  Namun, anak-anak beranjak dewasa dan suami-istri membutuhkan ruang biologis. Kadang-kadang mereka melakukannya di tengah ruang induk, di depan televisi, di atas hamparan tikar, dekat meja setrikaan, ketika anak-anak mereka tidur pulas dan menguasai dua kasur kecil.   


Lalu kamar utama besar milik majikan itu, selalu mengajak.  Bukankah mereka yang memegang kunci ? Membersihkannya ? Menyikat kamar mandinya ? Memandikannya dengan karbol anti kuman ? Mengganti tirai secara berkala ? Bukankah bercinta itu sakral dan membutuhkan kelapangan ?


Maka Kueni menggerutui kegaduhan.  Saluran-saluran air itukah yang mengirimkan lenguhan dan suara sapi digorok ?  Ia menyumpahi kualitas material bangunan yang tak meredam suara dan kesialan yang menimpanya sejak menghuni kamar itu.  Di ambang keputusasaan Kueni mempelajari kegaduhan tersebut.  Apakah orang miskin bercinta lebih sering dan atraktif?  Pagi-pagi mengeluh perihal utang dan uang sekolah anak, malam-malam lenyap dalam pergumulan babak demi babak ? Mengapa mereka melakukannya sangat sering ? Biasanya teror itu ditutup oleh guyuran air di kamar mandi.


Esoknya, Kueni akan mencermati keduanya, teroris bagi hidupnya kini.  Perempuannya gempal, selalu mengeluh. Sebagian besar waktunya bekerja di perusahaan catering dengan jam kerja tak tentu. Kerap ia lalai menyediakan makanan untuk dua kanak-kanaknya yang pada jam usai sekolah langsung berkeliaran di gang-gang.  Kecantikan perempuan itu ditelan nestapa.  Sebagai perempuan, ia memanggul lebih banyak tuntutan.  


Sang Suami, Si Semampai berkulit kelam, selalu batuk dan merokok,  menggerutui istri yang sibuk sehingga dia harus  memasak mis instant untuk dirinya dan kedua bocah itu.  Ia ingin dilayani serupa suami-suami lainnya.  Namun saban kali menuntut hal tersebut, perempuannya menyalak.   Perempuan pengomel itu merasa penafkah utama.  Tidak layak lelaki lemah itu memiki ide-ide lebay yang menyusahkan.    


Perselisihan keduanya kerap dipertontonkan di depan Kueni,  yang karena statusnya sebagai seorang ibu yang bersekolah S3,  dianggap bakal maklum akan pertempuran-pertempuran kecil.  Kueni lalu akan mendengar keluhan-keluhan domestik berulang sehingga kadang-kadang ia menghindar karena bosan.  Suatu ketika becak dekat teras itu terguling.  Perempuan gempal itu mendorongnya penuh amarah karena sang suami tidak mencuci dua ember pakaian yang telah tiga malam diinapkan dan membiarkan jemuran diamuk hujan sesiangan.


Namun malam demi malam, segaduh mereka bertikai, segaduh itu pulalah mereka bercinta.  Dalam semalam, Kueni menghitung, mereka bisa melakukannya lima kali.  Kueni bercerita pada karibnya.  Kau salah hitung dan salah mendeteksi orgasme, sahut karibnya itu.  Jikapun kau benar,  ramuan apa yang disesap lelaki itu ? Semalam lima kali untuk lima hari dalam seminggu ?  Tidakkah mereka hebat ?


Pasangan gaduh itu kembali berebut oksigen ketika sang majikan berkunjung beberapa hari. Kembali berdesakan di rumah mereka, sepetak kamar itu.  Rumah induk mereka lewati ketika menyapu, mengepel dan melayani makan sang majikan.  Sang Nyonya bertubuh jangkung dengan pembawaan aristokrat, memberi perintah dengan suara melengking-lengking.  Sang Tuan bulat pendek dengan perut buncit, pensiunan lumayan kaya, menyetal televisi dengan volume keras, sangat menggemari berita politik.


Pasangan majikan itu -tentu saja-menghamparkan badan di atas springbed dan sprei harum itu. Aroma Molto Biru bercampur ruap karbol.  Tak ada intervensi aroma yang lain.  Mereka beristrahat  damai dan berbahagia.   


 

TASIK

Dua puluh tahun lampau Kunang lelaki sempurna.  Serupa tasik, ia menjerat gemerisik hutan. Perempuan gaduh, Si Hutan Gemerisik itu,   memuja diam-diam.  Idealitas dibentuk persepsi-persepsi lugu : pada kurun tertentu, bacaan serupa bisa.   Seperti soal kesalehan.  Seperti soal surga-neraka.  Seperti soal bentuk negara yang pantas didiami orang-orang beriman.  Seperti cara lawan jenis memperlakukan kasmaran.   Dan sungguh,  dalam kesenyapannya,  lelaki itu mengirim penanda hendak berjalan lempang.


Maka Sang Perempuan sibuk menerjemahkan isyarat.  Suatu ketika ia tiba pada kesimpulan Kunang  sama memujanya.  Mengagumi kegembiraan dan daya hidup yang disebarkannya. Namun senantiasa lelaki itu mematung di kejauhan.  Sedikit riak samar demi embusan angin  memintas.  Ia perempuan gaduh, bukan ?  Lelaki itu bukan batu.  Ia tasik.     


Waktu menggelinding.  Dua puluh tahun kemudian Perempuan Gaduh mengenang Tasik.  Ia tak pernah menjumpainya sejak perpisahan canggung sedikit kata, siang itu, di teras berangin, di kota mereka yang tak menarik  (sehingga kebanyakan penduduknya ingin kabur).   Tak ada jejaknya kecuali dalam ingatan.  Tak ada tulisan. Tak ada potret.  


Perempuan itu menulis dalam catatan di kepala :  aku mengharapkannya bertahun-tahun karena persepsi masa mudaku yang keliru perihal kesempurnaan dan kebutuhan manusia.  Sesungguhnya aku membaca diriku dalam dirinya, ketika itu.  Persepsiku perihal kesalehan, kelayakan, kesempurnaan, perimbangan dan persekutuan sempurna.  Sesungguhnya kami berbeda, beruntung tak berpadu.    Saat ini orang sejenisku disebut liberal dia disebut fundamentalis.  Ia sadar sejak pagi.  Aku sadar di ujung malam.


Sepucuk kartu Hari Raya dari lelaki itu menyudahi kenangannya.  Perkumpulan itu menelan Kunang, beberapa baris ayat suci menegaskan bumi macam apa hendak dibentuknya,  ideologi macam apa hendak ditegakkannya.  Lelaki itu mengubah namanya.  Nama barunya meruapkan keganjilan di kamar Sang Perempuan yang menatap kartu itu dengan perasaan campur-aduk.   Shakespeare bersajak  makna nama, namun bagi Kunang nama adalah ideologi dan sarana.

Tasik itu kini laut bergelora.  Ia kehilangan kerahasiaan nan memikat.   Dahulu, lelaki itu tak terbaca meski bergerak tegas.  Dahulu,  ia nampak lebih universal.  Dahulu, ia menimbulkan ketentraman.   Perempuan Gaduh itu menulis lagi :  atau, sebenarnya ini cuma soal cinta remaja tolol.  Serba merasa.  Serupa Gu Jun Pyo yang gede rasa mengira Geum Jan Di setengah mati jatuh cinta kepadanya karena merasa diri patut dikagumi.  Soal-soal lain adalah kekenesan belaka. Soal-soal agama. Soal-soal ideologi.  Soal-soal perbedaan bawaan.  Waktu itu, sesungguhnya, aku mencintai pemikiranku sendiri. Pemikiran yang kekanak-kanakan itu.


Perempuan itu sekali lagi melafalkan nama baru Sang Lelaki.  Ia hendak meminta pada alam semesta agar lelaki itu dihamparkan di hadapannya.  Ia hendak menghitung debaran jantungnya sendiri.  Ia hendak menilai sel-sel kelabu otak pada rak memori masa lampaunya.  


Membaca koran sembari menyeruput kopi di gerai donat sebuah mal, melihat jalan raya disaput mendung dari kaca, ia berpikir lagi  : tentunya sejak dulu ia telah membaca gelagatku yang sangat duniawi.  Ah masa muda nan menggelikan.  Yang tersisa sekadar memuaskan keingintahuan adalah pertanyaan : dahulu itu,  apakah kau benar-benar jatuh cinta padaku ?


Perempuan itu menghabiskan donat almond. Ia menyesal memesan espresso.  Kota basah.






 

07 February 2010

NYONYA ABULROTTA

Cinderella Complex kah yang menderaku ?  Persetan.  Pria jangkung dengan tungkai panjang dan bekerja di sebuah BUMN itu kini terbaring di sebelahku.  Pencarian panjang dalam jampi ibuku berujung ledakan bunga-bunga.   Aku pun meledakkan orang lain : ibarat kelana dahaga, orang lain oase bagi kehausanku berbagi bunga.  Malam-malam pertama sebagai istri, kusebarkan pesan pendek.  Narasi gempita berupa kesimpulan : menjadi istri adalah pencapaian terbaik perempuan.  Pesan-pesan pendek dalam malam dan dini hari.   Bahwa pesan-pesan itu tak dijawab,  tidaklah penting.


Kusebut, aku tak mampu berpisah dengan lelaki ini, penemuanku.  Kusebut,  aku harap hanya maut yang mengoyak.   Kurasakan semacam sahaya sukarela.   Seperti perempuan lainnya, nama diri yang dimaktub dalam akte lahir,  dengan penuh kesadaran dan kebanggaan,  kubiarkan lelaki itu dan masyarakat menisbatkan nama baru :  Nyonya Abulrotta.   


Maka panggil aku Nyonya Abulrotta mulai sekarang.  Atau jika identitas diriku hendak sedikit dituliskan,  maka tulislah sebagai Nyonya Andini Abulrotta.  Setidaknya,  perlu berterima-kasih pada orangtuaku yang berpikir keras memberi nama terbaik ketika aku lahir.  Namun sejujurnya, segenap jiwaku telah berabulrotta, tak menyisakan rasa untuk nama sendiri kecuali demi bakti  anak kepada orangtua.


Lelaki itu bernama Abulrotta.  Menjelang menemukannya,  aku bermimpi tiga ekor ular bertarung hendak menjebol pintu kamarku.  Ular pemenang  bergerak lamban, menujuku, melenggak tak butuh seruling.   Dalam nujum lelaki di koridor universitas,  lelaki itu akan menjadi pejabat dan tentu saja aku akan jadi ibu pejabat.  Hidupku bakal gemilang sukacita.  Barangkali aku perlu belajar bertingkah ibu pejabat sejak kini.  Apakah perlu merapal jampi warisan ibuku ?


Begini.  Tak hendak aku berkata ibu pejabat semacam kasta puncak.  Namun ingatlah selalu :  semua manusia sama, namun ada kelompok yang lebih sama.  Ibu pejabat tergolong kelompok terakhir.   Maksudku, gerombolan ibu pejabat itu meski serupa dan sederajat dengan perempuan lainnya, kelompok ini serupa dalam kelompoknya sendiri.    Paham ?


Lihat cara mereka berbicara, berdandan, menjamu tamu atau memberikan petunjuk dan pengarahan.   Keistimewaan spesies ini adalah kekuasaan suami mereka berarti pula kekuasaan mereka.  Mereka bahkan membentuk organisasi yang sungguh sibuk dengan hirarki mengesankan.  Tujuan organisasi itu selalu mulia.   


Hmmm,  namun dalam tata rambut, mungkin aku, Nyonya Abulrotta, tak hendak menyasak rambut terlalu menggelembung.   Suatu hari dalam hidup aku berpikir,  salah satu penyebab  lubang ozon adalah penggunaan semprotan aerosol pembentuk gelembung rambut.    Bapak Abulrotta memiliki istri sadar jargon pemanasan global, you know....


Sidang pembaca budiman,  maka izinkan aku, Nyonya Abulrotta, hidup berbahagia bersama Bapak Abulrotta,  pejabat masa depan itu.   Jika kalian hendak mendengarkan sukacitaku yang tak henti-henti, silakan mampir ke rumah kami atau berikan nomor ponsel kalian padaku,  Nyonya Abulrotta.   Kisahku tak habis,  selalu butuh pendengar setia.  Jadilah pendengarku, kuberikan kau sepuluh cangkir kopi dan lima piring pastry  !










11 August 2009

FARIZA

Bertahun-tahun bersama Fariza. Perempuan yang sulit mencintai. Sekali mencintai, sebadai pengorbanan. Terkenang dia betapa rewel. Sebumi keluhan. Selangit nestapa. Orang-orang kerap takjub : " Sebegitu tangguhkah kau bersamanya ? "

Tentu saja aku tangguh. Manusia akan tangguh dalam kerumunan. Begitu banyak jenis manusia. Begitu sering seseorang beradaptasi. Pada titik tertentu, persahabatan adalah penerimaan kualitas baik dan buruk seseorang. Menerima tanpa diri sendiri menghilir keburukan tersebut. Terbiasa akan hal-hal menjengkelkan darinya sembari mengakui kebaikan-kebaikannya.


Suatu hari Fariza mengaku mencintai lagi seseorang. Perasaan purna dan mendesak. Seorang lelaki flamboyan banyak cakap, pendengar setia, meruapkan ladang bunga. Kupikir Fariza sempoyongan mabuk. Ia bilang tidak. Namun jikapun mabuk, lalu mengapa ?

Ia dan lelaki itu mencari penghulu. Dua jiwa yang terbelah, kini bakal melingkar penuh. Wali hakim bersabda : aku berperan jika ayahmu menjarak jauh sehingga ia bisa shalat masbuq.

Namun Si Ayah, Lelaki Pemberang itu, dalam kota yang sama, sedang mengisap kretek dan mencermati kapal ikan yang usai berlabuh. Ia pernah bersumpah : kubuang kau seperti menyepak kerikil sekiranya kau menyerahkan diri pada lelaki itu.

Kau tahu bukan, Fariza berkata kepadaku, hati itu tak tepi. Sebenarnya, aku ini sungai yang sejak dulu mencari muara. Akhirnya kujumpai muara dan aku menuju samudera.

Seorang perempuan yang lain, memekik-mekik, dalam angkara yang hampir selesai, menulis : kau paling sabar kucerca. Sudah waktunya aku menepi.




30 December 2008

AYAH dan PERI TIBA-TIBA

Perempuan dua belas tahun terguguk di ambang pintu. Sepatu dekil dan ransel kotor tercampak di rerumputan. Gerimis di luar sepertinya juga terguguk. Sang Ayah membentak, mengatasi omelan panjang-pendek Si Terguguk. Di dapur, seorang perempuan kehabisan gagasan. Sepotong bujukanya terdengar berjarak : "Jangan menjawab Ayah ya? Jika kau tak mau mencuci ranselmu hari ini, tak apa. Hanya, terik jarang muncul akhir-akhir ini. "


Perempuan itu meminta bocah lima tahun memungut ransel dan sepatu tercampak itu. Girang Si Bocah memenuhi . Sungguh sebuah kehormatan.


Lelaki dan Si Terguguk itu bak pinah dibelah. Satu legam. Salinan fisik dalam kelamin dan umur berbeda. Namun jiwa mereka saling bentrok berhadapan. Dan perempuan di dapur itu, berada dalam kekisruhan medan perang domestik.


Perempuan dua belas tahun itu meneruskan gerungan : " Aku menunggu dua jam tapi Ayah tak muncul ! Malah menitipkan pada Ayah orang lain ! Ayah lebih memperhatikan Ayam Bekisar ketimbang anaknya ! Ayah tak serupa Ayah kawan-kawanku !"


Lelaki yang disebut Ayah mendekat mau menampar. Perempuan di dapur bergegas menengahi : " Sudah, sudah Ayah ! Dan kamu, sebaiknya berhenti mengomel, paham ?"


Terdengar pintu kamar terhempas, anak kunci berderit. Bocah lima tahun yang baru saja memperoleh tugas terhormat, termangu-mangu. "Mengapa Kakak ? "


Lalu pada malam, perempuan dua belas tahun itu meminjam ponsel perempuan di dapur yang mengerutkan dahi menonton sinetron yang kerap dirutuknya sebagai tak jelas. Perempuan dua belas tahun menulis pesan pendek untuk Peri Tiba-Tiba.


Peri Tiba-Tiba adalah instruktur agama yang baru saja masuk dalam kehidupannya selama seminggu mengikuti pesantren kilat. Ia memberi obat mujarab segala nestapa dan janji-janji firdaus. Ia manusia penuh welas dan pemahaman. Tak serupa Ayah. Tak serupa Ibu Tiri yang kehangatannya samar-samar dan berjarak. Tak serupa semua orang-orang dewasa yang menjengkelkan.


"Jika kau mau menelponnya, boleh. Mengobrollah sepuas hatimu, " tawar perempuan di sofa yang kini memindahkan saluran ke acara dokumentar. Diam-diam perempuan itu menyesapi pelupuk mata bengkak itu dan hasratnya pada Peri Tiba-Tiba. Diam-diam pula ia bersumpah segera bisa menyetir agar tak tergantung pada Pemuja Berhala Ayam Bekisar, suaminya itu. Segala keributan biasanya bersumber dari ketergantungan terhadap Sang Ayah.


"Kau begitu terkesan padanya ya ? " tanya perempuan dokumentar. "Pesan pendekmu belum dibalasnya. Mungkin ia sedang istrahat. Telepon saja dia kapan saja kamu mau."


" Terima kasih, bunda, " sahut perempuan dua belas itu lirih, lalu seperti tertelan awang-awang.


Di peraduan, setelah menyungkupi diri dengan selimut dan menyalakan pendingin ruangan, perempuan yang disebut ibunda itu, membaca diam-diam pesan terkirim pada Peri Tiba-Tiba.


teteh maaf ya raras tidak bisa datang dan mengucapkan selamat tinggal
tidak ada yang mengantar dan menjemput

raras berterima-kasih sekali pada teteh yang sudah mengajarkan banyak hal
dan menambah wawasan raras

yang mengajarkan raras zikir, shalat dan ibadah lainnya

semoga kita bisa ketemu lagi
raras sayang teteh

mmuahh...dadah......


Perempuan itu kembali meletakkan ponsel. Mengambil buku pengantar tidur. Di sebelahnya, suaminya mendengkur lembut. Ia pasti memimpikan Ayam Bekisar Terbaik, pikirnya.