Tuesday, August 11, 2009

FARIZA

Bertahun-tahun bersama Fariza. Perempuan yang sulit mencintai. Sekali mencintai, sebadai pengorbanan. Terkenang dia betapa rewel. Sebumi keluhan. Selangit nestapa. Orang-orang kerap takjub : " Sebegitu tangguhkah kau bersamanya ? "

Tentu saja aku tangguh. Manusia akan tangguh dalam kerumunan. Begitu banyak jenis manusia. Begitu sering seseorang beradaptasi. Pada titik tertentu, persahabatan adalah penerimaan kualitas baik dan buruk seseorang. Menerima tanpa diri sendiri menghilir keburukan tersebut. Terbiasa akan hal-hal menjengkelkan darinya sembari mengakui kebaikan-kebaikannya.


Suatu hari Fariza mengaku mencintai lagi seseorang. Perasaan purna dan mendesak. Seorang lelaki flamboyan banyak cakap, pendengar setia, meruapkan ladang bunga. Kupikir Fariza sempoyongan mabuk. Ia bilang tidak. Namun jikapun mabuk, lalu mengapa ?

Ia dan lelaki itu mencari penghulu. Dua jiwa yang terbelah, kini bakal melingkar penuh. Wali hakim bersabda : aku berperan jika ayahmu menjarak jauh sehingga ia bisa shalat masbuq.

Namun Si Ayah, Lelaki Pemberang itu, dalam kota yang sama, sedang mengisap kretek dan mencermati kapal ikan yang usai berlabuh. Ia pernah bersumpah : kubuang kau seperti menyepak kerikil sekiranya kau menyerahkan diri pada lelaki itu.

Kau tahu bukan, Fariza berkata kepadaku, hati itu tak tepi. Sebenarnya, aku ini sungai yang sejak dulu mencari muara. Akhirnya kujumpai muara dan aku menuju samudera.

Seorang perempuan yang lain, memekik-mekik, dalam angkara yang hampir selesai, menulis : kau paling sabar kucerca. Sudah waktunya aku menepi.




Tuesday, December 30, 2008

AYAH dan PERI TIBA-TIBA

Perempuan dua belas tahun terguguk di ambang pintu. Sepatu dekil dan ransel kotor tercampak di rerumputan. Gerimis di luar sepertinya juga terguguk. Sang Ayah membentak, mengatasi omelan panjang-pendek Si Terguguk. Di dapur, seorang perempuan kehabisan gagasan. Sepotong bujukanya terdengar berjarak : "Jangan menjawab Ayah ya? Jika kau tak mau mencuci ranselmu hari ini, tak apa. Hanya, terik jarang muncul akhir-akhir ini. "


Perempuan itu meminta bocah lima tahun memungut ransel dan sepatu tercampak itu. Girang Si Bocah memenuhi . Sungguh sebuah kehormatan.


Lelaki dan Si Terguguk itu bak pinah dibelah. Satu legam. Salinan fisik dalam kelamin dan umur berbeda. Namun jiwa mereka saling bentrok berhadapan. Dan perempuan di dapur itu, berada dalam kekisruhan medan perang domestik.


Perempuan dua belas tahun itu meneruskan gerungan : " Aku menunggu dua jam tapi Ayah tak muncul ! Malah menitipkan pada Ayah orang lain ! Ayah lebih memperhatikan Ayam Bekisar ketimbang anaknya ! Ayah tak serupa Ayah kawan-kawanku !"


Lelaki yang disebut Ayah mendekat mau menampar. Perempuan di dapur bergegas menengahi : " Sudah, sudah Ayah ! Dan kamu, sebaiknya berhenti mengomel, paham ?"


Terdengar pintu kamar terhempas, anak kunci berderit. Bocah lima tahun yang baru saja memperoleh tugas terhormat, termangu-mangu. "Mengapa Kakak ? "


Lalu pada malam, perempuan dua belas tahun itu meminjam ponsel perempuan di dapur yang mengerutkan dahi menonton sinetron yang kerap dirutuknya sebagai tak jelas. Perempuan dua belas tahun menulis pesan pendek untuk Peri Tiba-Tiba.


Peri Tiba-Tiba adalah instruktur agama yang baru saja masuk dalam kehidupannya selama seminggu mengikuti pesantren kilat. Ia memberi obat mujarab segala nestapa dan janji-janji firdaus. Ia manusia penuh welas dan pemahaman. Tak serupa Ayah. Tak serupa Ibu Tiri yang kehangatannya samar-samar dan berjarak. Tak serupa semua orang-orang dewasa yang menjengkelkan.


"Jika kau mau menelponnya, boleh. Mengobrollah sepuas hatimu, " tawar perempuan di sofa yang kini memindahkan saluran ke acara dokumentar. Diam-diam perempuan itu menyesapi pelupuk mata bengkak itu dan hasratnya pada Peri Tiba-Tiba. Diam-diam pula ia bersumpah segera bisa menyetir agar tak tergantung pada Pemuja Berhala Ayam Bekisar, suaminya itu. Segala keributan biasanya bersumber dari ketergantungan terhadap Sang Ayah.


"Kau begitu terkesan padanya ya ? " tanya perempuan dokumentar. "Pesan pendekmu belum dibalasnya. Mungkin ia sedang istrahat. Telepon saja dia kapan saja kamu mau."


" Terima kasih, bunda, " sahut perempuan dua belas itu lirih, lalu seperti tertelan awang-awang.


Di peraduan, setelah menyungkupi diri dengan selimut dan menyalakan pendingin ruangan, perempuan yang disebut ibunda itu, membaca diam-diam pesan terkirim pada Peri Tiba-Tiba.


teteh maaf ya raras tidak bisa datang dan mengucapkan selamat tinggal
tidak ada yang mengantar dan menjemput

raras berterima-kasih sekali pada teteh yang sudah mengajarkan banyak hal
dan menambah wawasan raras

yang mengajarkan raras zikir, shalat dan ibadah lainnya

semoga kita bisa ketemu lagi
raras sayang teteh

mmuahh...dadah......


Perempuan itu kembali meletakkan ponsel. Mengambil buku pengantar tidur. Di sebelahnya, suaminya mendengkur lembut. Ia pasti memimpikan Ayam Bekisar Terbaik, pikirnya.

Friday, November 28, 2008

SURAMON

Suramon merentakkan fajar. Pintu diketuk tak sabar. Nafsu hengkang menggelinjang menua sejak tersadar ia tak mampu membedakan semburat mentari. Embun telah berangkat ketika ia tiba di terminal. Sepasang kanak-kanak menyertainya senyap. Tuan dan Nyonya melepasnya tanpa sentimentalitas. Begitu saja.


Suramon tak tahu, ia sekam memang hendak dibuang. Digunakan ketika kepepet dan tanpa pilihan. Ia menggeletarkan Si Bungsu yang terbata ketakutan belajar membaca.


Buta huruf penghardik hendak pula mencerca anakku ! Gigil marah Sang Nyonya. Biar ia jadi TKW dan digantung di Singapura.


Maka Suramon kembali ke haribaan kaki gunung dan teratak di kebun singkong. Perasaan abadi pernah menjadi pahlawan. Ia seperti biasa akan membualkan jasa dan peran. Seribu kota yang pernah dijajaki namun tak pernah disebut dengan benar.


Suramon punya dongeng baru: Suatu ketika daku membenarkan orang-orang kota, menjadi tulang belakang mereka, membereskan mereka, meluruskan anak-anak mereka...

Sunday, October 12, 2008

PINTU

Pikirannya kembara. Ia merindukan jalanan. Kekacauan kota. Buku-buku yang diserak dan isinya yang diracaukan. Toko-toko tempat uang dan manusia menemukan identitas. Pertunjukan-pertujukan keriaan. Pencopet bis kota. Percakapan-percakapan menyenangkan.


Dirinya. Seperti dulu, merentang semaunya.


Sebentang kesenyapan mencekik kini. Negeri kabut. Bahkan garis langit di lautan tak bisa disentuh: keindahannya, selain belantara raksasa dan dengung serangga. Ia tak bisa sendirian meretas kabut. Kadang-kadang ia merasa ingin kabur mengikuti hembusan angin atau berkas mentari yang meleleh.


Namun cengkraman tangan kanak-kanak saban malam, suaranya yang menuntut, ketawanya yang berderai sukacita, ruap leher dan tengkuknya, sungguh menyingkirkan hasrat alami penggelandang.


Semalam kanak-kanak itu mengetuk lembut pintu kamarnya, memamerkan melankoli, menggamitnya ke peraduan, melingarkan tangan di lehernya, kembali mendengkur halus.

Dan pagi itu, setelah menyesap susu coklat secangkir, kanak-kanak itu berbisik di telinganya agar tak ketahuan pengasuh yang sangar : "Bunda, kau kan yang membukakan pintu jika aku pulang sekolah sebentar?"

Wednesday, September 10, 2008

LELAKI NGUMPUL

Lelaki-lelaki pekerja di sebuah ceruk mengadakan pertemuan rutin tengah malam. Seorang istri bikin kopi, teh, menggoreng ubi rambat, memotong cake. Seorang pembantu terkantuk-kantuk keluar dari bilik yang diketuk pelan. Dari bilik itu, sedengkur lembut kanak-kanak menggeletar di udara. Airmatanya usai. Sebelumnya merengek minta dininabobok ibunda, tentu saja dengan dongeng-dongeng ajaib.


Para lelaki itu suka merintang malam hingga dinihari. Mungkin, Marx membumbung di dekat permukaan atap basah. Bukan, lelaki-lelaki itu tak hendak bicara sosialisme. Sekadar mengenai gerombolan yang dikenal sebagai Serikat Pekerja.


Jika berkumpul, mereka kerap lupa waktu. Kafein mencampakkan rasa kantuk. Perdebatan menyusup melalui lubang-lubang udara, ditangkap telinga istri yang menonton dokumentar sembari mengantuk.


Tentu saja jangkrik mendesing kedinginan. Gagak sesekali memintas. Lampu-lampu mercury menampakkan kabut samar, serupa hembusan nafas di benua gigil.


Di situ, istri-istri adalah pelengkap pemikiran. Gagasan, penentangan, kritisisme adalah milik lelaki. Bahkan jika pun seorang istri mengomentari politik lokal, ia serta-merta terlihat tidak biasa.


Istri yang menonton dokumentar itu berusaha tidak janggal dan tidak berbeda. Ia bertanya pada seorang istri lainnya: apa yang dikerjakan ibu-ibu lainnya? Adakah pengajian? Apa yang dilakukan Drama -oh bukan- Dharma Wanita?


O, suatu saat saya akan mengajakmu ke pengajian di rumah para bos.

Baik, baik. Kapan-kapan ajaklah saya sebelum saya merasa dirubung kebingungan.


Para lelaki tergelak. Asap rokok dihembuskan. Cangkir-cangkir mengosong menyisakan endapan bubuk kopi. Dengkuran anak lembut makin teratur. Kabut meleleh, rebah di rerumputan.


Sunday, September 07, 2008

NEGERI MONYET GELANTUNGAN

Indreswary bergegas penuh seri. Sepenuh senyum pada sore basah. Kulit legam. Rambut ikal gerai. Menentang di teras, berdua kakak perempuan. Segera ia menggelayut dan manja. Tata tertib Bude Yatemi diterobos, atas persekutuan diam-diam dengan Bunda.


Dinding masih bau cat. Perabot dan barang terserak tak karuan, ditata tanpa rasa artistik. Segelintir warisan Ibu Dahulu: hiasan dinding, taplak meja rombeng, keramik sumbing, cangkir-cangkir plastik antah-barantah.


Sekarang lebih memencil. Di ujung, dengan pokok-pokok mangga besar. Teras belakang berkerak. Kabut suka mampir lama-lama. Desing serangga menderak malam, biawak tamu tiba-tiba, ular geliat di rimbunan.


Dan kerajaan monyet di belakang rumah.


Pagar besi serupa benteng, demarkasi kerajaan manusia dan mereka. Namun Kaum Monyet menyerbu tanpa malu-malu. Memorak-poranda tong sampah, menggelantung di dahan nangka, melabrak kerak nasi jemur, meludeskannya tak berampun. Seberkas singkong baru dicerabut. Bude Yatemi masygul menyumpah.


Dalam kabut , bangsa paling serupa kami itu, hidup dalam usaha bersisian. Jendela lebar-lebar itu, mata-mata manusia yang menempel dan menonton itu, pekikan Indreswary dan Indreswaru, hidup yang dirumuskan ulang.


Waktu dipendam kabut. Betapa anehnya aku menikmati: sungguh perjalanan lengang. Jalan-jalan raya yang diam. Orang-orang yang ingin kupahami.

Thursday, July 24, 2008

PENCURI NAMA YANG MENYESAP ANGGUR

Kerap terduduk senyap di bar Madhouse, menyesap kenikmatan setuntasnya : sebotol anggur dalam bayang potret penguasa militer yang ditempelkan di tembok. Di luar sana, Belgrade menggeliat seperti biasa.



Hidup sungguh indah, bukan? Dunia cukup melapangkan dirinya dalam apartemen dua kamar. Terlebih ketika masih dalam kesenyapan, penikmat anggur itu masih bisa meretas jalan-jalan raya, membaca koran yang membicarakan buronan benua, menjadi juru sembuh bagi para pesakitan, menulis artikel di majalah kesehatan, memamerkan lempengan logam kosmis.



Dan Mila berambut coklat, anggur yang lain, suatu hari bertanya, menunjuk potret besar penguasa militer itu : "Bar yang enak. Tapi foto dia gak nyambung samasekali. Tidak cocok dengan suasana dan anggur merahnya."



Lelaki itu diuber ke segenap ruang di bawah langit, sahut Si Lelaki, sekali lagi menyesap anggur merah kesukaannya. Helikopter dan tank mencari jejak dan baunya. Ia selenyap aroma parfum murahan, mungkin ikut mampus bersama ribuan manusia yang dibantainya.



Namun pastinya ia pahlawan, penyesap anggur merah itu menegaskan. Mila Berambut Coklat mengangguk-angguk, sebentuk cinta mengapung di udara, untuk lelaki bergaya pentolan sebuah sekte itu, yang suatu kali memamerkan selembar potret kanak-kanak kegirangan. Cucu-cucuku, sahutnya, dari anak dari istriku masa lampau. Kini kaulah masa kiniku.



Maka Si Penyesap Anggur menggandeng Mila Rambut Coklat di depan Gordana Blagojevic, pemilik warung yoghurt dan roti.



Bus 73 menuju Batajnica. Penyesap Anggur seperti biasa meretas hidup sebagai manusia bermartabat, ketika sekawanan lelaki meringkusnya dan mendudukkannya di sepotong kursi di sebuah ceruk tak bernama.



Seorang lelaki lain, namanya dicuri di Sarajevo pada tahun 1993, jiwanya dihentikan. Kau perompaknya lelaki janggut Santa Klaus!



Siapakah yang mencuri nama? Ribuan bernama Dragan Dabic, aku hanya salah satu. Pembedanya aku senantiasa bersenyap bersama anggur merah di bawah potret pahlawan bangsa ini.



Mila Berambut Coklat menemukan lelakinya itu terpampang di koran-koran dunia. Bartender di bar menelunjuk potret tua yang dicelanya habis-habisan kemarin : Itulah dia kekasihmu. Kau memacarinya di bawah potretnya sendiri. Dia pembantai delapan ribu Muslim di Srebrenica.