Bertahun-tahun bersama Fariza. Perempuan yang sulit mencintai. Sekali mencintai, sebadai pengorbanan. Terkenang dia betapa rewel. Sebumi keluhan. Selangit nestapa. Orang-orang kerap takjub : " Sebegitu tangguhkah kau bersamanya ? "
Tentu saja aku tangguh. Manusia akan tangguh dalam kerumunan. Begitu banyak jenis manusia. Begitu sering seseorang beradaptasi. Pada titik tertentu, persahabatan adalah penerimaan kualitas baik dan buruk seseorang. Menerima tanpa diri sendiri menghilir keburukan tersebut. Terbiasa akan hal-hal menjengkelkan darinya sembari mengakui kebaikan-kebaikannya.
Suatu hari Fariza mengaku mencintai lagi seseorang. Perasaan purna dan mendesak. Seorang lelaki flamboyan banyak cakap, pendengar setia, meruapkan ladang bunga. Kupikir Fariza sempoyongan mabuk. Ia bilang tidak. Namun jikapun mabuk, lalu mengapa ?
Ia dan lelaki itu mencari penghulu. Dua jiwa yang terbelah, kini bakal melingkar penuh. Wali hakim bersabda : aku berperan jika ayahmu menjarak jauh sehingga ia bisa shalat masbuq.
Namun Si Ayah, Lelaki Pemberang itu, dalam kota yang sama, sedang mengisap kretek dan mencermati kapal ikan yang usai berlabuh. Ia pernah bersumpah : kubuang kau seperti menyepak kerikil sekiranya kau menyerahkan diri pada lelaki itu.
Kau tahu bukan, Fariza berkata kepadaku, hati itu tak tepi. Sebenarnya, aku ini sungai yang sejak dulu mencari muara. Akhirnya kujumpai muara dan aku menuju samudera.
Seorang perempuan yang lain, memekik-mekik, dalam angkara yang hampir selesai, menulis : kau paling sabar kucerca. Sudah waktunya aku menepi.
Tentu saja aku tangguh. Manusia akan tangguh dalam kerumunan. Begitu banyak jenis manusia. Begitu sering seseorang beradaptasi. Pada titik tertentu, persahabatan adalah penerimaan kualitas baik dan buruk seseorang. Menerima tanpa diri sendiri menghilir keburukan tersebut. Terbiasa akan hal-hal menjengkelkan darinya sembari mengakui kebaikan-kebaikannya.
Suatu hari Fariza mengaku mencintai lagi seseorang. Perasaan purna dan mendesak. Seorang lelaki flamboyan banyak cakap, pendengar setia, meruapkan ladang bunga. Kupikir Fariza sempoyongan mabuk. Ia bilang tidak. Namun jikapun mabuk, lalu mengapa ?
Ia dan lelaki itu mencari penghulu. Dua jiwa yang terbelah, kini bakal melingkar penuh. Wali hakim bersabda : aku berperan jika ayahmu menjarak jauh sehingga ia bisa shalat masbuq.
Namun Si Ayah, Lelaki Pemberang itu, dalam kota yang sama, sedang mengisap kretek dan mencermati kapal ikan yang usai berlabuh. Ia pernah bersumpah : kubuang kau seperti menyepak kerikil sekiranya kau menyerahkan diri pada lelaki itu.
Kau tahu bukan, Fariza berkata kepadaku, hati itu tak tepi. Sebenarnya, aku ini sungai yang sejak dulu mencari muara. Akhirnya kujumpai muara dan aku menuju samudera.
Seorang perempuan yang lain, memekik-mekik, dalam angkara yang hampir selesai, menulis : kau paling sabar kucerca. Sudah waktunya aku menepi.